Perjuangan Ibu Tunggal di Deli Serdang Menguliahkan Anak ke Yaman

Rohana saat melepas anaknya berangkat ke Yaman. (foto: istimewa/mistar)
Deli Serdang, MISTAR.ID
Di sebuah rumah sederhana di Dusun III, Desa Selemak, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang, seorang ibu bernama Rohana, 46 tahun, tak pernah membayangkan anaknya akan menuntut ilmu hingga ke Yaman.
Namun, bagi Rohana mimpi anak adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, meski harus dibayar dengan air mata, utang, hingga nyaris kehilangan rumah satu-satunya.
Anaknya bernama Nafila Anzani Lubis, akrab disapa Apin. Gadis kelahiran Deli Serdang, 23 Mei 2006 itu dikenal sebagai santriwati berprestasi di Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong, Pesawaran, Lampung.
Di balik sederet prestasi tilawah dan pidato yang diraihnya, tersimpan perjuangan panjang seorang ibu yang bekerja dari subuh hingga tengah malam demi satu tujuan, mengantarkan anaknya menjemput cita-cita.
“Kalau memang apa yang diinginkan anak itu baik, saya siap memperjuangkannya,” kata Rohana dengan mata berkaca-kaca.
Bakat yang Tumbuh Sejak Kecil
Perjalanan Apin di dunia tilawah dimulai sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Saat itu, guru ngajinya melihat bakat dalam suara dan tajwidnya. Ia kemudian belajar kepada Ustadz Zainuddin S.PdI dan istrinya, Marlina Lubis.
Dalam sepekan, Apin rutin berlatih tiga kali. Sejak kelas 4 SD, ia mulai mengikuti MTQ cabang Tartil Qur’an dan perlahan menorehkan berbagai prestasi hingga pernah membawa nama Deli Serdang ke tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Bakat Apin juga menarik perhatian Ustadz Akhirul Ramadhani. Pertemuan pertama mereka terjadi saat MTQ di Desa Selemak ketika Apin masih duduk di kelas 3 SD, sementara Ustadz Akhirul bertugas sebagai juri.
“Di antara banyak peserta, ada seorang anak kecil yang begitu menarik perhatian saya. Dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan, ia berhasil meraih juara pertama tilawah,” kenang Ustadz Akhirul.
Sejak saat itu, ia terus mengikuti perkembangan Apin. Bukan hanya bakat tilawah yang dilihatnya, tetapi juga kecerdasan dan keberanian Apin saat berceramah di depan umum.
“Setelah tamat SMP, saya mengajak Apin ke Pondok Daarul Ikrom Kedondong, tempat saya mengajar. Setelah berbicara dengan ibunya, Apin saya bawa ke Lampung,” ucapnya.
Mondok dan Bersinar
Keinginan untuk mondok sebenarnya sudah muncul dalam diri Apin sejak SMP. Ia merasa membutuhkan lingkungan yang bisa mengembangkan kemampuan dan ilmu agamanya lebih jauh.
Akhirnya, ia memilih Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong yang memiliki ekstrakurikuler tilawah. Di pondok itu pula ia kembali bertemu dengan Ustadz Akhirul Ramadhani yang terus membimbing dan mendukungnya.
Berkat prestasinya, Apin mendapatkan beasiswa penuh hingga tamat.
Direktur Ma’had Tarbiyah Islamiyah Al ‘Ashriyah (MTIA) Pondok Modern Daarul Ikrom Kedondong, Ustadz M Rizky Ananda Lubis M.Pd, mengatakan pihak pondok melihat Apin sebagai sosok santri yang cerdas dan memiliki motivasi belajar tinggi.
“Apin ini anak yang baik, akhlaknya bagus, pintar, rajin, dan memiliki motivasi belajar yang kuat,” ujarnya.
Selama mondok, prestasi Apin semakin bersinar. Ia berhasil meraih juara dalam berbagai perlombaan tilawah, tahfidz, qasidah, hingga pidato bahasa Arab tingkat provinsi dan nasional.
“Apin pernah membawa nama pondok di Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren (Pospenas) tahun 2022 di Jawa Tengah dan memenangi beberapa perlombaan tingkat kabupaten maupun provinsi di Lampung,” katanya.
Nyaris Menjual Rumah Demi Anak
Di balik prestasi itu, tersimpan perjuangan ekonomi yang begitu berat.
Ketika Apin menyampaikan keinginannya untuk kuliah di Yaman, ibunya sempat terdiam. Sebagai pedagang kecil, biaya keberangkatan yang mencapai ratusan juta rupiah terasa mustahil bagi Rohana.
Meski begitu, ia memilih percaya dan mulai menabung sejak Apin duduk di kelas 2 pondok. Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan. Bahkan sepeda motornya dijual demi menambah biaya. “Waktu itu terkumpul sekitar Rp40 juta,” katanya.
Jumlah itu tentu belum cukup. Untuk biaya keberangkatan dan administrasi, total kebutuhan mencapai lebih dari Rp100 juta. Rohana kemudian meminjam uang ke tetangga, ikut jula-jula, hingga nyaris menjual rumah satu-satunya.
“Saya sudah niat menjual rumah. Saya bilang sama Apin, ‘Sudah Dek, kita jual rumah ini supaya kamu bisa berangkat,’” kenangnya.
Rumah itu bahkan sempat ditawarkan dengan harga murah, sekitar Rp50 juta. Yang penting bagi Rohana saat itu hanyalah satu, anaknya bisa berangkat menuntut ilmu.
Di masa-masa itu, ujian datang bertubi-tubi. Usaha jualannya sepi. Cibiran dari orang sekitar pun berdatangan. Bahkan orang terdekat sempat meragukan perjuangan mereka. “Dia sampai nangis dan sakit memikirkan semuanya,” kata Rohana.
Namun perlahan jalan mulai terbuka. Bantuan datang dari alumni Yaman bernama Ustazah Sifa. Donasi dari orang-orang baik mulai mengalir. Tetangga pun ikut membantu dengan pinjaman.
Menjelang keberangkatan, warga sekitar mengadakan acara tepung tawar sederhana. Dari acara kecil itu terkumpul sekitar Rp4 juta sebagai bekal Apin ke Yaman.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER






















