Banjir Berulang di Mela I-II Tapteng, Warga Kesulitan Evakuasi Ayah yang Stroke

Agnez Monika Hutagalung bersama warga Desa Mela I. (Foto: Feliks/mistar)
Tapteng, MISTAR.ID – Banjir berulang kali melanda Desa Mela I dan II, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Banjir tidak hanya membuat warga khawatir terhadap kondisi rumah mereka. Bagi Agnez Monika Hutagalung, setiap banjir juga menjadi persoalan serius karena harus menyelamatkan ayahnya yang sedang menderita stroke.
Agnez mengatakan setiap hujan deras turun dan air sungai meluap, dirinya kebingungan mencari tempat aman mengevakuasi sang ayah. Kondisi tersebut membuat keluarganya semakin cemas karena banjir kini kerap terjadi.
"Bapak saya sedang mengalami stroke. Jadi setiap banjir kami tidak tahu mau mengangkat bapak ke mana. Jadi, kami mohonlah bantuannya, tolonglah kami masyarakat Desa Mela I dan II ini agar diperhatikan," ujar Agnez, Jumat (2/10/2026).
Banjir sampai saat ini masih merendam rumah warga setelah hujan turun pada Kamis (1/10/2026) sekitar pukul 22.00 WIB hingga Jumat (2/10/2026). Air meluap dari sungai yang berada di sekitar permukiman dan masuk ke rumah-rumah warga.
Menurut Agnez, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak November 2025. Ia menyebut dalam sebulan warga bahkan bisa mengalami banjir hingga sekitar empat kali.
"Kalau mungkin dihitung dalam satu bulan itu, kami mengalami banjir hampir empat kali. Apalagi ditambah rumah kami terbuat dari kayu. Jika semakin terus kena banjir, mungkin bisa-bisa rumah kami akan roboh," katanya.
Warga menduga banjir semakin sering terjadi karena sungai mengalami pendangkalan setelah banjir bandang dan tanah longsor pada 25 September 2025. Hingga kini, menurutnya, belum ada penanganan serius mengatasi kondisi tersebut.
Agnez berharap pemerintah daerah segera menormalisasi sungai dengan mengeruk material yang menyebabkan pendangkalan. Ia juga meminta pemerintah membangun tanggul permanen agar air sungai tidak kembali meluap ke permukiman warga.
"Pasalnya, hanya datang hujan selama dua jam, maka lokasi ini langsung kebanjiran karena muaranya sudah semakin dangkal. Kami meminta pemerintah menurunkan alat berat dan mengorek pasirnya sampai habis. Jadi, kalau hujan kami tidak kebanjiran lagi. Kalau bisa ditanggul," tuturnya.
Selain persoalan banjir, warga juga mengeluhkan bantuan jaminan hidup, isi hunian, dan rumah rusak yang disebut belum mereka terima meski telah menunggu hampir satu tahun.[]
















































