Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Waisak 2570 BE: Momentum Refleksi Kebijaksanaan, Cinta Kasih, dan Toleransi

Mistar.idSabtu, 30 Mei 2026 pukul 12.43 WIB
waisak_2570_be_momentum_refleksi_kebijaksanaan_cinta_kasih_dan_toleransi

Sekretaris Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kota Pematangsiantar, Chandra. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Hari Raya Waisak merupakan hari suci terpenting bagi umat Buddha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tahun ini, puncak peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE (Buddhist Era) jatuh pada Minggu, (31/5/2026).

Bagi umat Buddha, momentum ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah panggilan spiritual yang mendalam.

Sekretaris Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kota Pematangsiantar, Chandra menjelaskan bahwa Waisak esensinya adalah mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddhattha Gotama, yang dikenal sebagai Tri Suci Waisak.

"Tiga peristiwa agung tersebut adalah pertama, kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama. Kedua, saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna menjadi Buddha. Dan yang ketiga adalah Parinibbana atau wafatnya Buddha Gautama," ujar Chandra, kepada Mistar pada Sabtu (30/5/2026).

Chandra menekankan bahwa Waisak bukanlah ritual sejarah yang statis. Hari suci ini merupakan momen refleksi diri bagi setiap umat untuk menghayati dan mempraktikkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Ada tiga nilai utama yang menjadi pilar dalam refleksi Waisak tahun ini, yaitu kebijaksanaan (Panna), moralitas (Sila) dan cinta kasih (Metta).

"Perayaan Waisak di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, adalah kesempatan emas bagi kita semua untuk memperbanyak perbuatan kebajikan (Kusala Kamma). Ini adalah waktu untuk memperbaharui komitmen diri agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijaksana, damai, dan membawa manfaat bagi orang lain," tambah Chandra.

Kemeriahan dan kekhusyukan Waisak di Kota Pematangsiantar ternyata sudah berlangsung sejak sepekan lalu. Chandra menjelaskan bahwa ibadah dan perayaan Waisak sebenarnya dapat dilaksanakan sepanjang satu bulan penuh, yang biasa disebut sebagai Bulan Waisak.

Di Pematangsiantar, Walubi bersama berbagai majelis dan vihara telah menggelar rangkaian kegiatan sakral. Di antaranya, Tradaksina Keliling Kota pada Sabtu (23/5/2026).

Walubi Kota Pematangsiantar telah sukses melaksanakan ritual tradaksina, yaitu berjalan kaki mengelilingi inti Kota Pematangsiantar sambil melafalkan doa-doa sutra dan mantra untuk kedamaian kota dan negara.

Kemudian ritual di Vihara Avalokitesvara pada Selasa (26/5/2026). Juga melaksanakan ritual Yi Fo (pemandian Rupang Buddha) serta ritual San Bu Yi Bai (tiga langkah satu kali sujud) sebagai bentuk penghormatan dan pengikisan ego.

"Malam Kesenian Majelis Pajak Bumi Tanah Suci pada Sabtu (30/5/ 2026) tepat pada malam nanti, Majelis Pajak Bumi Tanah Suci menggelar Malam Kesenian Waisak, yang akan dilanjutkan besok pagi dengan prosesi pemandian Rupang Buddha," tuturnya.

Chandra mengungkapkan bahwa magnet utama Waisak Nasional tetap berada di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Sebagian besar pemuka agama Buddha dan biksu dari berbagai sangha di Pematangsiantar saat ini sudah berada di Borobudur untuk mengikuti puncak prosesi detik-detik Waisak nasional.

"Banyak dari biksu dan majelis kita yang saat ini sudah berkumpul di Candi Borobudur. Namun, bagi umat yang berada di Siantar, kekhusyukan tidak akan berkurang karena seluruh vihara tetap menggelar pujabakti dan ritual yang khidmat," tuturnya. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN