Tembok Penahan MAN Pematangsiantar Longsor 12 Meter, Tutupi Sebagian Jalan

Tembok penahan tanah MAN Pematangsiantar di Jalan Singosari, Kelurahan Bantan, yang longsor sepanjang 12 meter. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (21/10/2026) – Tembok penahan tanah milik Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pematangsiantar di Jalan Singosari, Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat, longsor sepanjang 12 meter pada Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Material longsoran menutupi sebagian badan jalan.
Hujan deras yang mengguyur Kota Pematangsiantar sejak malam sebelumnya diduga menjadi pemicu longsor karena mengikis tanah penopang fondasi tembok.
Lurah Bantan, Azis Rangkuti, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, derasnya aliran air hujan mengikis tanah di bawah tembok hingga menyebabkan struktur tersebut ambruk.
“Kejadiannya sekitar pukul 04.00 WIB. Tembok penahan sekolah MAN longsor karena hujan deras sehingga tanah di bawahnya tergerus,” ujar Azis saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.
Untuk mencegah kemacetan dan membahayakan pengguna jalan, pihak kelurahan bersama pengelola sekolah segera membersihkan material batu yang berserakan. Pihak kelurahan juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pematangsiantar.
“Langkah awal kami adalah melakukan penanganan darurat dengan membersihkan jalan agar lalu lintas kembali lancar. Laporan kejadian sudah kami teruskan ke pihak kecamatan dan BPBD. Untuk pengusulan pembangunan tembok penahan yang baru, kami menunggu permohonan resmi dari pihak MAN,” kata Azis.
Di lokasi yang sama, Kepala MAN Pematangsiantar, Lintong Sirait, menjelaskan bahwa tembok yang longsor tersebut merupakan struktur bangunan lama. Kondisi tanah penopang yang diduga telah terkikis air hujan diperkirakan menjadi salah satu penyebab tembok tidak mampu menahan tekanan tanah.
“Panjang tembok yang ambrol sekitar 12 meter. Ini memang struktur lama. Kemungkinan tanah penopangnya sudah berlubang. Saat diterjang cuaca buruk dan hujan deras, akhirnya longsor,” ujar Lintong.
Terkait perbaikan permanen, Lintong mengatakan pihak sekolah tengah berkoordinasi dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama untuk mencari solusi. Pasalnya, sekolah tidak memiliki alokasi anggaran khusus untuk menangani bencana yang terjadi secara mendadak.
“Kami sedang berkomunikasi dengan Kanwil untuk mencari solusi karena kami tidak memiliki anggaran mandiri untuk penanganan ini. Setelah ada petunjuk dan arahan dari Kanwil, baru akan kami tindak lanjuti. Target kami membangun kembali tembok penahan yang lebih kokoh dan aman,” tutupnya.







































