Sri Mulyani Sukses Tanam Kelengkeng di Lahan Miring Simalungun, Panen 1 Ton Tiap 7 Bulan

Sri Mulyani, pemilik kebun kelengkeng. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/10/2026) – Sri Mulyani, petani dengan modal nekat, berhasil menanam kelengkeng dan meraih hasil panen memuaskan di Huta Karang Tengah, Nagori Bah Jambi II, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.
Menurut Sri, saat mulai bertani pada 2021, banyak warga memandang lahan miring tersebut tidak produktif dan dianggap mustahil dijadikan kebun. Namun, Sri melihat semua itu sebagai tantangan.
“Banyak yang nggak yakin. Tapi saya jalan terus, pelan-pelan sambil belajar sendiri,” katanya kepada Mistar.id, Rabu (7/10/2026).
Sri Mulyani memang tidak memiliki latar belakang pertanian. Semua ilmu ia gali sendiri melalui internet, menonton video, dan membaca artikel. Pelan-pelan, ia memahami bahwa perawatan tanaman kelengkeng sangat krusial, terutama soal kondisi tanah.
Kelengkeng membutuhkan tanah yang gembur, pH stabil antara 5,5 hingga 6,5, kaya bahan organik, serta memiliki aliran air yang lancar agar akar tidak membusuk. Ia pun rajin memeriksa pH tanah menggunakan alat ukur.
“Kalau asamnya kebanyakan, saya tambahkan dolomit biar seimbang lagi,” jelasnya.
Hasilnya tidak main-main. Dari lahan yang semula diremehkan, kini panennya bisa mencapai 1 ton setiap tujuh bulan dari lahan 1 hektar. Soal penjualan pun lancar. Agen dari Simalungun dan Pematangsiantar rutin datang untuk menampung hasil kebunnya.
Sri tidak berpuas diri sampai di situ. Ia ingin kebunnya juga menjadi tempat wisata. Warga sekitar bahkan dipersilakan masuk tanpa membayar tiket, asalkan membeli kelengkeng yang dipetik sendiri. Tidak ada batas minimal pembelian.
Agar tanaman tetap terjaga, setiap pengunjung ditemani pekerja kebun yang ia rekrut dari warga sekitar.
Baginya, semua keberhasilan ini lebih dari sekadar urusan untung dan rugi. Sri ingin menunjukkan bahwa keterbatasan dan keraguan orang lain dapat diubah menjadi berkah bagi dirinya, keluarga, serta orang-orang di sekitarnya.
“Kuncinya cuma satu, jangan berhenti belajar dan jangan gampang menyerah,” tutupnya sambil tersenyum.

















































