Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Mika Pasaribu, Nenek Penjual Genjer Tak Pernah Dapat Bansos, Potret Abainya Pemerintah

Mistar.idRabu, 12 November 2025 pukul 17.09 WIB
mika_pasaribu_nenek_penjual_genjer_tak_pernah_dapat_bansos_potret_abainya_pemerintah

Mika Boru Pasaribu ditemui di kediamannya di Jalan Bah Kora II, Marihat I, Kota Pematangsiantar. (foto:hamzah/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pagi itu, langkah kaki seorang perempuan renta terdengar pelan di halaman Kantor DPRD Kota Pematangsiantar, Jalan H Adam Malik.

Tubuhnya yang kurus dibalut baju lusuh, sementara di tangannya tergenggam erat jemari mungil cucu perempuannya yang belum genap berusia empat tahun.

Namanya Mika Boru Pasaribu, 61 tahun. Ia datang bukan untuk meminta lebih, hanya ingin mencari keadilan.

Ditemani seorang tetangga, Mika menyampaikan keluhannya tentang hidup dalam kemiskinan, namun tak pernah tercatat sebagai penerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.

“Dia sangat layak dapat bansos. Setiap hari dia cari genjer di sawah, untuk makan saja kadang tak cukup,” ujar Mega Sidabutar, tetangga Mika, Rabu (12/11/2025).

Namun harapan itu kandas sementara. Di Kantor DPRD, tak ada satu pun anggota dewan yang bisa ditemui. Mika sempat mencari Darson Rajagukguk, anggota DPRD, tapi kantornya kosong. Begitu pula ruangan anggota lainnya.

Di sudut halaman, Mika duduk termenung. Di matanya tergambar lelah, tapi juga tekad yang belum padam.

Genjer dan Kehidupan yang Tak Pernah Mudah

Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, Mika sudah turun ke sawah atau menyusuri parit-parit di Kelurahan Pematang Marihat, Kecamatan Siantar Marimbun. Di sana, ia mencari genjer, sayuran rawa yang dulu dianggap makanan orang miskin.

“Setiap hari aku cuma meramban genjer kubawa ke pajak atau rumah makan. Kadang untuk makan pun gak cukup. Kerja serabutan lah aku agar bisa makan,” ucapnya lirih.

Genjer itulah sumber hidup Mika dan cucunya, seorang anak yatim yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan.

Suaminya sudah lama meninggal, begitu juga anak lelakinya, ayah sang cucu. Sementara ibu si kecil kini mengalami gangguan kejiwaan.

Dalam rumah panggung kecil di Jalan Bah Kora II, Mika dan cucunya hidup dalam keterbatasan. Rumah papan itu sudah reyot dan miring, sebagian dindingnya keropos dimakan usia. Di dalamnya hanya ada satu tilam tipis yang sudah tak layak disebut tempat tidur. Kelambu tua tergantung di atas untuk menahan gigitan nyamuk pada malam hari.

Beberapa minggu lalu, angin kencang menerbangkan atap rumah mereka. Kini atap itu tampak baru bukan karena mampu membeli, melainkan hasil bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pematangsiantar. Itu satu-satunya bantuan yang pernah ia rasakan dalam beberapa tahun terakhir.

Ketika Keadilan Tak Menyapa

Mika mengaku pernah menerima bantuan beras, tetapi itu pun jarang. Ia sering melihat orang lain menerima bantuan sosial di Kantor Pos, sedangkan dirinya yang benar-benar membutuhkan justru tak pernah terdaftar.

“Aku lihat orang dapat bansos dari Kantor Pos. Tapi kami yang susah ini gak dapat,” katanya dengan suara bergetar.

Tak hanya soal pangan, bahkan jaminan kesehatan pun kini di luar jangkauannya. Lebih dari setahun, ia tak mampu lagi membayar iuran BPJS Kesehatan.

“Gak tahu aku, pak. Aku dan cucuku dilarang sakit,” ujarnya sambil menitikkan air mata.

Ia juga sempat mendatangi Kantor Lurah untuk meminta bantuan. Namun, dirinya justru disuruh mendaftar secara online hal yang tak bisa ia lakukan karena tidak memiliki ponsel Android.

Harapan yang Belum Padam

Kisah Mika menyebar cepat setelah sejumlah jurnalis mendatangi rumahnya. Banyak warga sekitar yang membenarkan kisahnya.

“Dia memang hidup susah. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” kata seorang tetangga.

Sementara itu, Camat Siantar Marimbun Alex Siahaan saat dihubungi mengaku akan segera meninjau kondisi Mika setelah menghadiri rapat di Kantor Wali Kota.

“Sudah kita urus, di bulan empat nanti sudah kita usulkan. Kita bereskan lah biar mendapat bantuan,” ujar Alex.

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, di antara gedung-gedung megah dan kursi empuk parlemen, ada satu rumah reyot yang berdiri miring di Marihat.

Di dalamnya, seorang nenek terus berjuang bukan untuk kaya, tapi agar cucunya bisa makan dan bertahan hidup esok hari. Dan hingga kini, Mika masih menunggu. Entah kapan keadilan benar-benar datang menyapa pintu rumah kayu tuanya. (hm16)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN