Thursday, October 1, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Studi: Kurangi Makanan Ultra-Proses, Gejala Depresi Bisa Membaik

Mistar.idKamis, 1 Oktober 2026 pukul 17.57 WIB
studi_kurangi_makanan_ultraproses_gejala_depresi_bisa_membaik

Ilustrasi: Makanan ultra-proses. (foto: Shutterstock via Science Daily)

news_banner

San Francisco, MISTAR.ID - Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses mungkin berkaitan dengan membaiknya gejala depresi.

Temuan awal ini berasal dari penelitian kecil yang dilakukan para peneliti University of California, San Francisco (UCSF), dan diterbitkan pada 23 September di JAMA Psychiatry.

Penelitian yang didanai National Institutes of Health atau NIH tersebut melibatkan 20 orang dengan usia rata-rata 44 tahun. Sekitar 70 persen peserta merupakan perempuan, dan 14 peserta juga mengalami kecemasan.

Para peserta diminta mengurangi konsumsi makanan ultra-proses hingga lebih dari 85 persen. Makanan ultra-proses antara lain makanan ringan kemasan, makanan cepat saji, minuman manis dan berbagai produk makanan yang diproduksi secara industri.

Hasilnya, peneliti menemukan perbaikan sedang hingga besar pada tiga ukuran gejala depresi. Tingkat kecemasan juga mengalami perbaikan, meski dalam skala lebih kecil.

Peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok. Satu kelompok tetap menjalani pola makan seperti biasa selama empat minggu, sementara kelompok lainnya menjalani pola makan rendah makanan ultra-proses. Setelah empat minggu, kedua kelompok bertukar pola makan.

Nyasha Chagwedera, peneliti sekaligus pendiri UCSF Metabolic and Mental Health Program, mengatakan makanan ultra-proses memang sulit dikurangi karena mudah diperoleh, murah dan memiliki cita rasa yang sangat kuat.

“Mengurangi jumlah makanan ultra-proses dalam pola makan kita bisa menjadi tantangan, karena makanan ini sangat menggugah selera, murah dan praktis,” kata Chagwedera

Peneliti juga mengkaji kemungkinan adanya hubungan antara makanan ultra-proses, kesehatan usus dan otak. Salah satu hipotesisnya, pola makan tersebut dapat mengganggu lapisan pelindung usus dan memicu peradangan kronis tingkat rendah yang kemudian dapat memengaruhi otak.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih bersifat awal.

"Penelitian ini berhasil menunjukkan kelayakan untuk melakukan penelitian serupa dalam skala yang lebih besar,” kata Andrew Krystal, profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku serta Neurologi UCSF.

Dengan hanya 20 peserta, studi ini belum dapat membuktikan bahwa mengurangi makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan perbaikan depresi.

Peneliti berencana melakukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar. Perekrutan untuk fase kedua diperkirakan dimulai pada 2028. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN