Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

India Dorong AI Berbasis Etika Lewat Konsep MANAV, Buat Regulasi Tanpa Hambat Inovasi

Mistar.idJumat, 17 April 2026 pukul 16.58 WIB
india_dorong_ai_berbasis_etika_lewat_konsep_manav_buat_regulasi_tanpa_hambat_inovasi

Ilustrasi AI. (Foto: Gemini/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pemerintah India mendorong pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berlandaskan etika dan kemanusiaan melalui konsep ‘MANAV’, seiring meningkatnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari serta kekhawatiran terhadap aspek keamanan dan keselamatannya.

Konsul Jenderal India di Medan, Ravi Shanker Goel, menyampaikan bahwa perkembangan AI yang pesat telah mendorong banyak pemerintah di dunia untuk mulai memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat, termasuk perlunya regulasi yang tepat tanpa menghambat inovasi.

Ia menjelaskan, pemerintah India telah mengambil peran utama dalam pengembangan AI dengan menyelenggarakan AI Impact Summit di New Delhi pada 16–20 Februari 2026 lalu yang dihadiri berbagai negara dan perusahaan teknologi global.

Dalam forum tersebut, Perdana Menteri India Narendra Modi memperkenalkan konsep ‘MANAV’ sebagai visi pengembangan AI. Ia menyebut, ‘MANAV’ merupakan singkatan dari prinsip bahwa teknologi harus bersifat moral dan etis, memiliki tata kelola yang akuntabel, menjunjung kedaulatan nasional, aksesibel dan inklusif, serta sah dan legitim.

“Pemerintah India mendorong agar perkembangan teknologi AI memenuhi prinsip-prinsip MANAV, sehingga dapat melayani umat manusia secara luas,” katanya, Jumat (17/4/2026).

AI Impact Summit juga menghasilkan kesepakatan global yang didukung oleh 92 negara dan organisasi internasional, termasuk Indonesia yang diwakili Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria.

Dalam Deklarasi New Delhi, lanjutnya, para peserta menegaskan bahwa potensi AI hanya dapat terwujud sepenuhnya apabila manfaatnya dibagikan kepada seluruh umat manusia. Mereka juga menilai kehadiran AI sebagai titik penting dalam evolusi teknologi yang akan membentuk masa depan generasi mendatang.

Tujuh pilar utama yang menandai kerja sama internasional ini yakni pengembangan sumber daya manusia, perluasan akses untuk pemberdayaan sosial, keandalan sistem AI, efisiensi energi, pemanfaatan AI dalam ilmu pengetahuan, demokratisasi sumber daya AI, serta penggunaan AI untuk pertumbuhan ekonomi dan kebaikan sosial.

Selain itu, disebutkan juga bahwa infrastruktur digital yang kuat dan konektivitas yang terjangkau menjadi prasyarat utama dalam pengembangan AI. Prinsip Vasudhaiva Kutumbakam atau dunia sebagai satu keluarga juga menjadi landasan untuk memperluas akses dan keterjangkauan teknologi AI bagi seluruh negara.

Dalam aspek keamanan, pengembangan AI yang aman dan tepercaya disebut sebagai kunci untuk membangun kepercayaan publik dan memaksimalkan manfaatnya bagi masyarakat dan ekonomi. Sementara itu, kolaborasi internasional dinilai penting dalam mendorong riset, pertukaran keahlian, serta pemanfaatan AI di berbagai sektor.

“AI berpotensi besar dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mulai dari akses informasi, pengetahuan hingga peluang ekonomi, sehingga diperlukan penguatan keterampilan melalui pendidikan, pelatihan, dan literasi AI,” tuturnya.

Di sisi lain, efisiensi energi dan keberlanjutan sistem AI turut menjadi perhatian, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur dalam pengembangan teknologi tersebut.

Ia menambahkan, AI Impact Summit diharapkan dapat memperkuat kerja sama internasional dan pendekatan multipihak dalam mengembangkan AI untuk masa depan masyarakat yang lebih sejahtera.

Selain itu, hubungan India dan Indonesia disebut terus menunjukkan perkembangan positif, termasuk melalui penandatanganan nota kesepahaman saat kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 terkait kerja sama di bidang pengembangan digital.

“Kedua negara berkomitmen untuk bekerja sama dalam pengembangan teknologi AI guna mencapai tujuan pembangunan di India dan Indonesia,” ucap Ravi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN