China Menuju Era Truk Listrik 100 Persen? Industri Klaim Bisa Pangkas Separuh Konsumsi Minyak

Ilustrasi, Liang menyebut kendaraan jenis ini bertanggung jawab atas sekitar setengah dari total konsumsi diesel dan minyak bumi di sektor transportasi jalan raya. (foto:AFP melalui SCMP/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Beijing — Transformasi besar tengah berlangsung di sektor transportasi China. Industri memprediksi lalu lintas kargo berat di negeri itu berpotensi menjadi hampir sepenuhnya bertenaga listrik, sebuah peralihan yang dapat memangkas hingga separuh konsumsi minyak di sektor transportasi jalan raya.
Pernyataan ini disampaikan Liang Linhe, Ketua Sany Truck, dalam forum pengembangan kendaraan listrik cerdas di Beijing, 11 April lalu. Ia menilai, meskipun belum ada target waktu pasti, sektor truk berat China pada akhirnya bisa “mendekati 100 persen listrik”.
“Sebagai alat produksi, ekonomi adalah pertimbangan utama,” ujar Liang. Menurutnya, biaya operasional truk listrik yang jauh lebih rendah akan mendorong penetrasi pasar secara agresif, menyisakan ruang yang semakin sempit bagi truk diesel konvensional.
Separuh Konsumsi Minyak Transportasi Dipertaruhkan
Truk berat memiliki peran krusial dalam konsumsi energi China. Liang menyebut kendaraan jenis ini bertanggung jawab atas sekitar setengah dari total konsumsi diesel dan minyak bumi di sektor transportasi jalan raya.
Artinya, jika elektrifikasi terjadi secara luas, dampaknya bukan sekadar pada industri otomotif, tetapi juga terhadap neraca energi nasional.
Sebagai perbandingan, satu truk berat diesel menghasilkan emisi karbon tahunan setara dengan sekitar 100 mobil penumpang berbahan bakar bensin. Skala inilah yang membuat elektrifikasi truk berat dipandang sebagai “pengungkit strategis” untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mempercepat transisi energi bersih China.
Momentum Geopolitik dan Ketahanan Energi
Transisi ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik global, termasuk gangguan di Selat Hormuz akibat konflik di kawasan Iran. Jalur sempit tersebut menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Data Administrasi Umum Bea Cukai menunjukkan sekitar 42 persen impor minyak mentah China berasal dari negara-negara Teluk. Di sisi lain, sektor transportasi menyumbang sekitar separuh konsumsi minyak nasional.
Dengan kondisi tersebut, elektrifikasi transportasi jalan raya menjadi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga strategi ketahanan energi.
Zhang Pengcheng, ekonom senior di China National Petroleum Corporation (CNPC), dalam analisanya pada Juni lalu menyebut elektrifikasi transportasi sebagai “pendorong utama” penurunan permintaan produk minyak olahan di China.
Ia memperkirakan dalam satu dekade ke depan, kendaraan energi baru akan menjadi tulang punggung transportasi jalan raya, dengan listrik berpotensi menyumbang hampir separuh konsumsi energi sektor tersebut.
Biaya Jadi Penentu Utama
Dari perspektif industri, faktor ekonomi menjadi motor perubahan.
Albert Hu, CEO CiDi — perusahaan kendaraan komersial tanpa pengemudi yang terdaftar di Hong Kong — menilai volatilitas harga minyak menjadi risiko serius bagi operator armada.
“Volatilitas harga minyak tetap menjadi perhatian penting bagi operator armada, sehingga argumen ekonomi untuk truk energi baru semakin kuat,” ujarnya.
Hu menambahkan, rantai pasokan industri dan keahlian teknik China memberikan keunggulan kompetitif yang berbeda dibandingkan negara lain. Ekosistem otomotif yang terintegrasi, kapasitas produksi baterai skala besar, peningkatan daya motor listrik, serta sistem kontrol elektronik yang semakin canggih menjadi fondasi percepatan adopsi.
Jika pada era diesel produsen Eropa mendominasi pasar global truk berat, kini China justru muncul sebagai pemimpin dalam segmen energi baru.
Lonjakan Penjualan dan Efek Domino Global
Dalam beberapa tahun terakhir, penetrasi truk energi baru di China meningkat pesat. Di sejumlah periode 2025, model truk energi baru bahkan mencatatkan pangsa signifikan dalam penjualan truk berat baru.
Tren ini mulai memengaruhi permintaan minyak olahan domestik. Penurunan konsumsi diesel di China — salah satu importir minyak terbesar dunia — berpotensi memberi dampak sistemik terhadap pasar energi global.
Jika sektor kargo berat benar-benar mendekati elektrifikasi total, China bukan hanya mengubah struktur industri transportasinya, tetapi juga memengaruhi peta permintaan minyak dunia.
Tantangan: Infrastruktur dan Investasi Awal
Meski prospeknya menjanjikan, sejumlah tantangan masih membayangi. Harga awal truk listrik berat relatif tinggi, meskipun total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) lebih rendah dalam jangka panjang karena efisiensi energi dan biaya perawatan.
Selain itu, pengembangan infrastruktur pengisian daya dan sistem penukaran baterai (battery swapping) menjadi faktor krusial untuk memastikan operasional logistik jarak jauh tetap efisien.
Namun dengan dukungan kebijakan pemerintah, skala pasar domestik yang masif, serta kekuatan manufaktur nasional, industri optimistis hambatan tersebut dapat diatasi.
Babak Baru Transportasi Global?
Elektrifikasi hampir total truk berat di China bukan sekadar isu otomotif. Ini adalah pergeseran struktural yang menyentuh tiga sektor sekaligus: energi, industri, dan geopolitik.
Jika target mendekati 100 persen tercapai, dampaknya akan terasa pada penurunan signifikan konsumsi minyak domestik, pengurangan emisi karbon skala besar, dan perubahan keseimbangan pasar energi global.
China kini tidak hanya memimpin adopsi kendaraan listrik penumpang, tetapi juga berpotensi memimpin revolusi kendaraan komersial berat. Dunia pun menunggu: apakah diesel akan benar-benar tersingkir dari jalan raya terbesar di Asia?
(scmp/ai/hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















