Thursday, October 8, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

AI Makin Pintar, Listrik Makin Terkuras: Siapa yang Bayar Biaya Data Center?

Mistar.idKamis, 8 Oktober 2026 pukul 21.52 WIB
ai_makin_pintar_listrik_makin_terkuras_siapa_yang_bayar_biaya_data_center

AI Makin Pintar, Listrik Makin Terkuras: Siapa yang Bayar Biaya Data Center? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (8/10/2026) — Ledakan kecerdasan buatan (AI) melahirkan persoalan baru yang tak kalah besar: listrik. Ketika perusahaan teknologi berlomba membangun data center dan mengoperasikan ribuan GPU, kebutuhan energi melonjak—begitu pula biaya untuk membangun jaringan listrik yang menopangnya. Kini, Amerika Serikat mulai berdebat: apakah biaya tersebut harus ditanggung raksasa teknologi atau dibebankan kepada seluruh pelanggan listrik?

AI memang berjalan di cloud. Namun cloud itu berdiri di atas gedung-gedung penuh server yang membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar.

Menurut International Energy Agency (IEA), konsumsi listrik data center global diproyeksikan lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 terawatt-jam (TWh) pada 2030. IEA memproyeksikan konsumsi listrik data center tumbuh sekitar 15% per tahun hingga 2030, jauh lebih cepat daripada pertumbuhan permintaan listrik global secara keseluruhan.

Masalahnya, membangun data center bisa jauh lebih cepat daripada membangun infrastruktur listrik yang dibutuhkannya.

Dan di situlah persoalan sebenarnya dimulai.

Data Center Mulai Mengubah Peta Konsumsi Listrik

Amerika Serikat menjadi salah satu pusat ledakan ini.

Data center menyerap sekitar 4,4% konsumsi listrik AS pada 2023. Update terbaru Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) memperkirakan porsinya dapat mencapai 11,8% pada 2030, dengan rentang skenario 9,5% hingga 15,3%.

Angka itu bukan sekadar soal tagihan listrik perusahaan teknologi.

Data center berukuran sangat besar membutuhkan sambungan jaringan, gardu, transmisi, pembangkit, dan kapasitas cadangan. Ketika proyek-proyek tersebut datang dalam waktu berdekatan, utilitas harus mempercepat investasi infrastruktur untuk memenuhi permintaan.

Pertanyaannya kemudian menjadi sensitif:

Siapa yang membayar investasi tersebut?

Bukan Cuma Tagihan Listrik, Tapi Biaya Membangun Jaringan

Perusahaan data center tentu membayar listrik yang mereka konsumsi. Namun persoalannya adalah biaya tambahan untuk membuat listrik itu tersedia.

Misalnya, sebuah data center membutuhkan gardu baru atau peningkatan kapasitas transmisi. Jika infrastruktur tersebut dibangun terutama karena satu pelanggan besar, muncul argumen bahwa pelanggan tersebut semestinya menanggung sebagian besar biayanya.

Sebaliknya, jika jaringan baru juga meningkatkan kapasitas dan keandalan sistem untuk pelanggan lain, persoalannya menjadi lebih kompleks.

Departemen Energi AS (DOE) sendiri mengidentifikasi tiga risiko utama dalam desain tarif untuk pelanggan listrik berskala besar: pergeseran biaya kepada pelanggan lain, risiko aset terbengkalai jika investasi tidak terpakai optimal, serta risiko keandalan ketika permintaan tumbuh lebih cepat daripada pasokan.

Dengan kata lain, masalah AI bukan hanya:

berapa banyak listrik yang digunakan?

Tetapi juga:

siapa yang menanggung biaya agar listrik itu tersedia?

Perdebatan Memanas di Amerika

Isu tersebut bahkan telah masuk ke Kongres AS.

Pada September 2026, DPR AS meloloskan Ratepayer Protection Act dengan suara 417-3. RUU itu mengharuskan regulator utilitas negara bagian mempertimbangkan apakah pelanggan listrik berukuran besar, seperti data center, perlu menanggung biaya tambahan infrastruktur yang muncul akibat kebutuhan mereka.

Namun langkah tersebut terhenti di Senat.

Pada 30 September 2026, Senat AS memblokir RUU tersebut dalam voting 57-43, kurang dari 60 suara yang dibutuhkan untuk melanjutkan proses. Perdebatan pun berlanjut mengenai seberapa besar biaya infrastruktur data center harus dibebankan kepada perusahaan teknologi dan seberapa jauh pelanggan lain perlu dilindungi.

Regulator energi juga menghadapi persoalan serupa.

FERC, regulator energi federal AS, pada akhir September meminta operator jaringan PJM merevisi mekanisme pengadaan listriknya di tengah proyeksi kekurangan daya sekitar 6.800 MW di tengah proyeksi kekurangan pasokan sekitar 6.800 MW yang diperburuk oleh pertumbuhan permintaan, termasuk ekspansi data center. Salah satu fokusnya adalah bagaimana biaya tambahan tersebut dialokasikan.

Data Center Bisa Menghemat Investasi Grid

Ada ironi menarik di balik krisis listrik AI.

Data center memang dapat memperbesar tekanan terhadap jaringan. Tetapi jika operasinya dibuat fleksibel, fasilitas tersebut juga bisa membantu sistem listrik.

Strateginya disebut demand response: data center mengurangi atau menggeser konsumsi listrik ketika jaringan sedang berada di bawah tekanan, lalu kembali meningkatkan konsumsi ketika pasokan tersedia.

Reuters melaporkan penelitian Nicholas Institute memperkirakan fleksibilitas data center berpotensi menghemat US$40 miliar hingga US$150 miliar investasi modal jaringan listrik AS selama satu dekade. Sejumlah fasilitas juga telah menunjukkan kemampuan mengurangi beban puncak sekitar 10%–30% atau lebih.

Ini membuka kemungkinan baru:

data center tidak harus selalu menjadi beban yang kaku bagi jaringan.

Jika workload AI tertentu dapat dijadwalkan ulang, sebagian konsumsi listrik bisa dipindahkan dari jam-jam kritis ke periode ketika pasokan lebih longgar.

AI Menghadapi Bottleneck Baru: Listrik dan Infrastruktur Grid

Selama ledakan AI, perhatian industri banyak tertuju pada Graphics Processing Unit (GPU) atau Unit Pemrosesan Grafis, chip dan kapasitas komputasi.

Namun semakin besar data center, semakin penting persoalan lain: power dan grid.

IEA memperkirakan data center akan menyumbang hampir separuh pertumbuhan permintaan listrik AS hingga 2030. Secara global, konsumsi listrik data center diproyeksikan mencapai sekitar 945 TWh pada 2030—sedikit lebih besar daripada konsumsi listrik Jepang saat ini.

Ada persoalan waktu yang membuat situasi semakin rumit.

IEA mencatat sebuah data center dapat beroperasi dalam sekitar dua hingga tiga tahun, sedangkan pembangunan sistem energi membutuhkan waktu lebih panjang karena proses perencanaan, perizinan, pembangunan transmisi dan investasi modal.

Artinya, AI berkembang dalam hitungan tahun, sementara jaringan listrik dibangun dalam tempo yang jauh lebih lambat.

Jika keduanya tidak sinkron, bottleneck energi bisa menjadi salah satu batas pertumbuhan AI.

Siapa yang Seharusnya Membayar?

Jawabannya tidak sesederhana meminta perusahaan teknologi membayar seluruh biaya.

Jika sebuah gardu atau sambungan transmisi dibangun khusus untuk satu data center, alasan untuk membebankan biaya kepada pelanggan tersebut relatif jelas.

Namun jika pembangunan jaringan juga meningkatkan kapasitas untuk rumah tangga, industri dan bisnis lain, sebagian biaya dapat dipandang sebagai investasi sistem.

Karena itu, perdebatan yang lebih penting bukan sekadar “Big Tech harus bayar atau tidak?”

Pertanyaannya adalah:

berapa besar biaya tambahan yang benar-benar ditimbulkan oleh data center, siapa yang mendapatkan manfaat dari infrastrukturnya, dan bagaimana risiko investasi dibagi?

Inilah alasan desain tarif listrik menjadi semakin penting dalam ekonomi AI.

Perlombaan AI Kini Juga Menjadi Perlombaan Energi

Ledakan AI mengubah cara industri teknologi melihat listrik.

Dulu, keunggulan AI terutama ditentukan oleh siapa yang memiliki model terbaik dan GPU terbanyak.

Kini muncul faktor baru:

siapa yang memiliki akses ke listrik dalam jumlah besar, stabil, murah, dan tersedia tepat waktu.

Google juga menandatangani kesepakatan energi dengan Constellation yang mencakup total 3.590 MW: 890 MW kapasitas nuklir baru melalui kontrak 20 tahun, ditambah 2.700 MW pasokan dari armada pembangkit yang ada melalui perjanjian 15 tahun.

Energi kini bukan lagi sekadar biaya operasional data center.

Energi menjadi bagian dari strategi kompetitif AI.

Pada Akhirnya, AI Punya “Tagihan” yang Lebih Besar

Harga layanan AI yang terlihat konsumen mungkin hanya berupa biaya langganan bulanan.

Namun di belakangnya terdapat rantai infrastruktur yang jauh lebih besar: pembangkit listrik, transmisi, gardu, data center, server, GPU, sistem pendingin, dan jaringan.

IEA memperkirakan kebutuhan listrik data center global akan terus melonjak, sementara LBNL melihat porsi konsumsi listrik data center AS dapat menembus 11,8% pada 2030 dalam skenario dasarnya.

Karena itu, pertanyaan terbesar dalam era AI mungkin bukan lagi:

“Seberapa pintar AI?”

Melainkan:

“Seberapa besar listrik yang dibutuhkan AI—dan siapa yang membayar infrastrukturnya?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan bukan hanya harga listrik, tetapi juga seberapa cepat revolusi AI dapat terus berkembang.

(iea/eta/seta/energygov/reuters/constellation/datacenterenergy/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN