Friday, June 5, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Wilmar Eliezer Simandjorang: Pendidikan Harus Melatih Cara Berpikir Bukan Sekadar Hafalan

Mistar.idJumat, 3 April 2026 17.56
journalist-avatar-top
PS
wilmar_eliezer_simandjorang_pendidikan_harus_melatih_cara_berpikir_bukan_sekadar_hafalan

Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS-GI), Dr Wilmar Eliaser Simandjorang. (Foto: Pangihutan/mistar)

news_banner

Samosir, MISTAR.ID

Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS-GI), Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, menegaskan arah pendidikan harus difokuskan pada pembentukan cara berpikir, bukan sekadar kemampuan menghafal. Ia menilai, pendekatan tersebut penting untuk menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.

"Hingga kini, praktek pendidikan masih didominasi orientasi pada nilai ujian dan hafalan materi. Kondisi itu dinilai berpotensi membatasi daya nalar peserta didik, yang seharusnya didorong untuk memahami, menganalisis, dan mengembangkan gagasan secara mandiri," ujar Wilmar, Jumat (3/4/2026).

Wilmar mengutip pandangan Albert Einstein, pendidikan sejati bukanlah proses mengumpulkan fakta, melainkan melatih pikiran untuk berpikir. Prinsip ini, kata dia, menjadi dasar penting dalam membangun generasi yang adaptif dan inovatif.

Menurut Wilmar, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan agar seseorang mampu memilah informasi, menguji kebenaran, serta tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang belum tentu valid. Sementara itu, kemampuan analitis membantu melihat keterkaitan antar peristiwa dan memahami sebab-akibat secara lebih mendalam.

Ia menambahkan, di era digital saat ini, informasi dapat diakses dengan mudah dari berbagai sumber. Namun, tanpa kemampuan berpikir yang baik, seseorang justru berisiko terjebak pada informasi yang keliru atau menyesatkan.

Wilmar menilai sistem pendidikan perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, dan bereksplorasi. Proses pembelajaran tidak lagi cukup hanya berpusat pada guru, tetapi harus mendorong partisipasi aktif siswa dalam menemukan pengetahuan.

Ia juga mencontohkan Albert Einstein sebagai sosok yang mampu melampaui batas pemikiran konvensional. Dengan keberanian mempertanyakan asumsi lama, Einstein berhasil melahirkan teori relativitas yang mengubah cara pandang manusia terhadap alam semesta.

“Belajar fakta memang penting, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana seseorang mampu berpikir dan memahami,” tutur Wilmar.

Menurutnya, pendidikan yang membebaskan pikiran akan melahirkan individu yang mandiri, kreatif, dan siap menghadapi perubahan. Hal ini menjadi kunci dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul di masa depan.

"Dengan demikian, pergeseran fokus dari hafalan menuju penguatan nalar dinilai menjadi langkah strategis dalam menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan berpikir, sekaligus fondasi utama bagi lahirnya inovasi dan kemajuan," ucapnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN