Siswa SMPN 23 Medan Sebut Deg-degan Hadapi TKA, Soal Dinilai Tak Sesuai Prediksi

Siswa SMPN 23 Medan, Tasya Mairani (kanan) dan Dafi Habibi Abdika Pane (kiri) setelah mengikuti TKA. (foto: Susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun pertama ini disebut memunculkan rasa cemas di kalangan siswa. Di SMP Negeri 23 Medan, sejumlah siswa mengaku deg-degan hingga kurang optimis dengan hasil ujian karena soal yang dinilai tidak sesuai prediksi.
Salah seorang siswa, Tasya Mairani, 15 tahun, mengaku merasa gugup karena sempat berpikir TKA menjadi salah satu syarat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
“Perasaannya deg-degan karena kan TKA ini katanya syarat untuk masuk ke sekolah lanjutnya juga, jadi butuh latihan-latihan juga karena takut nilai nggak sesuai sama yang diharapkan,” ujarnya kepada Mistar, Kamis (16/4/2026).
Ia mengatakan mulai meningkatkan intensitas belajar menjelang pelaksanaan ujian. Tasya menambah waktu belajar dengan mengerjakan soal-soal dari buku TKA yang diberikan sekolah serta latihan dari guru di kelas. Ia juga mengakui persiapan lebih intens dilakukan saat waktu ujian sudah dekat.
Meski telah berusaha, anak terakhir dari dua bersaudara itu mengaku belum optimis dengan hasil yang diperoleh. Saat ditanya tingkat keyakinannya, ia menyatakan tidak yakin jawabannya mencapai target tinggi.
Namun, ia berharap agar pelaksanaan TKA tetap ada di tahun-tahun berikutnya agar siswa lain bisa lebih siap dan meningkatkan literasi numerasi siswa. Menurutnya, ujian yang dihadapi memiliki tingkat kesulitan yang beragam. “Ujiannya lumayan, ada yang mudah, ada yang sulit,” katanya.
Sementara itu, Dafi Habibi Abdika Pane, 15 tahun, mengaku khawatir hasil TKA yang diperolehnya tidak sesuai harapan. Ia menyebut soal yang diujikan cukup sulit dan tidak sesuai dengan prediksi. “Agak takut kalau nilainya anjlok, karena soal-soalnya ini nggak sesuai prediksi, agak susah,” tuturnya dengan wajah sedikit tegang.
Anak terakhir dari empat bersaudara itu mengatakan dirinya menambah jam belajar di rumah sebagai bentuk persiapan. Ia rutin membaca buku TKA setiap selesai salat Magrib serta membahas soal melalui ponsel sesuai arahan orang tuanya.
Namun, seperti Tasya, ia juga mengaku baru meningkatkan intensitas belajar saat mendekati waktu pelaksanaan ujian. Meski telah berupaya, Dafi menyebut dirinya masih kurang optimis dengan hasil yang diperoleh. “Agak kurang optimis karena tadi masih belum sesuai dengan apa yang saya harapkan,” ucap Dafi.
Meski demikian, Dafi tetap berharap nilai TKA yang diperolehnya bisa melampaui perkiraan dan membawanya masuk ke sekolah yang diinginkan. Ia juga memberikan saran agar waktu pelaksanaan ujian ke depan tidak dilakukan terlalu siang karena berbenturan dengan kegiatan lain seperti les.
Dikutip Mistar melalui laman Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, TKA ini memang tidak wajib untuk diikuti. Siswa yang merasa siap dapat mengikuti ujian, sementara yang tidak siap tidak perlu merasa tertekan. Selain itu, disebutkan pula bahwa tidak ada konsekuensi apabila siswa tidak mengikuti TKA dan akan tetap dapat lulus dari sekolah.
Namun, hasil TKA ini dapat digunakan sebagai salah satu syarat atau pertimbangan untuk seleksi penerimaan murid baru di jenjang selanjutnya, maupun seleksi akademik lainnya. Maka dari itu, siswa harus mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan untuk tidak mengikuti TKA.





















