Thursday, June 18, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Penyelia Ungkap Kendala Utama TKA SD di Daerah Sumut

Mistar.idRabu, 29 April 2026 14.47
EH
SH
penyelia_ungkap_kendala_utama_tka_sd_di_daerah_sumut

Penyelia TKA SD untuk Kabupaten Batubara (Foto: Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Keterbatasan jaringan dan minimnya perangkat menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan perdana Tes Kompetensi Akademik (TKA) tingkat sekolah dasar di daerah.

Salah satu penyelia TKA SD Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Mahniar Sinaga, mengungkapkan pelaksanaan TKA memiliki dinamika berbeda di setiap sekolah yang diawasinya.

“Yang paling sering terjadi itu kendala teknis, seperti salah email yang diberikan ke proktor sehingga tidak bisa login. Lalu ada juga yang sudah login tapi keluar-masuk karena jaringan tidak stabil,” ujarnya kepada Mistar, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi jaringan di Batubara yang tidak sebagus Medan. Sehingga menjadi tantangan tersendiri selama pelaksanaan berbasis daring. Selain itu, keterbatasan perangkat seperti laptop membuat sejumlah sekolah harus membagi pelaksanaan hingga empat sesi.

“Dalam satu sesi yang berjalan sekitar 40 menit, kadang ada laptop yang bermasalah. Sementara tidak ada perangkat cadangan, akhirnya siswa tidak bisa melanjutkan,” kata guru di SDN 068008 Medan itu.

Dalam kondisi tersebut, Mahniar mengaku harus mengambil kebijakan fleksibel. Siswa yang masih memiliki waktu dipersilakan untuk login kembali, sementara kendala yang tidak teratasi dicatat sebagai bahan evaluasi.

Sebagai penyelia, ia mengawasi puluhan sekolah dengan sistem bergelombang. Pada gelombang pertama ia menangani 11 sekolah, gelombang kedua meningkat menjadi 15 sekolah, dan gelombang ketiga berkisar 12 hingga 15 sekolah per hari.

Koordinasi dilakukan melalui grup WhatsApp yang dibuat setiap hari dan terhubung dengan tautan dari dasbor TKA. Namun, masih ditemukan kendala komunikasi di lapangan, seperti pengawas yang kebingungan mengakses link atau ragu bergabung ke grup karena khawatir penipuan.

“Artinya sosialisasi masih perlu diperkuat agar tidak ada lagi kebingungan seperti ‘di mana link-nya’ saat pelaksanaan,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kendala, Mahniar bersama tim menerapkan sejumlah langkah, seperti mengimbau sekolah menyiapkan paket data, memastikan perangkat siap, meminta pengawas hadir 30 menit sebelum ujian, hingga mengandalkan hotspot pribadi sebagai cadangan jika Wi-Fi atau listrik bermasalah.

“Kami sebagai penyelia bahkan tidak mengandalkan Wi-Fi sekolah. Harus siap dengan data seluler dan baterai penuh untuk kondisi darurat,” katanya.

Ia menilai, meski masih terdapat berbagai kendala, sistem pelaksanaan TKA sudah cukup baik karena melibatkan penyelia dan pengawas. Namun, sinkronisasi antara proktor, pengawas, penyelia, dan panitia pusat masih perlu ditingkatkan untuk meminimalkan kesalahan teknis seperti kekeliruan email.

Dari sisi pembelajaran, Mahniar menekankan pentingnya kesiapan guru dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan karakter soal TKA yang berbasis literasi dan numerasi.

“Tidak bisa instan. Pembelajaran harus sejak awal relevan dengan literasi dan numerasi, supaya tidak terjadi ketidaksinkronan antara materi di kelas dan soal TKA,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perlunya dukungan dari pemerintah, khususnya dalam penyediaan perangkat minimal seperti laptop dengan spesifikasi memadai serta penguatan jaringan internet, termasuk penggunaan modem di daerah yang sulit akses.

Selain itu, Mahniar juga menegaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan siswa. Namun, masih banyak siswa yang merasa gugup karena menganggap ujian tersebut sebagai penentu akhir. “Enam tahun mereka sekolah, masa ditentukan dengan satu hari. TKA ini seharusnya menjadi alat evaluasi untuk melihat apa yang perlu diperbaiki ke depan,” katanya.

Menurutnya, hasil TKA justru menjadi tolok ukur bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa, terutama dalam penguatan literasi dan numerasi.

Ke depan, ia berharap dukungan terhadap digitalisasi pendidikan semakin diperkuat, baik melalui pemerintah maupun pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah (BOS), agar pelaksanaan TKA berikutnya dapat berjalan lebih optimal tanpa kendala berarti. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN