Mahasiswa PPG UMSU Ajarkan Literasi Keuangan kepada Anak Lewat Permainan Edukatif

Foto bersama mahasiswa dan anak-anak di Teras Baca Agmarani. (foto: Teras Baca Agmarani/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menerapkan projek kepemimpinan bagi para mahasiswa, guna mempersiapkan calon guru menjadi pemimpin yang berdampak bagi masyarakat.
Sebanyak 10 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP UMSU telah melakukan projek kepemimpinan bertema ‘Literasi Keuangan di Teras Baca Agmarani’. Tema ini sejalan dengan komitmen Teras Baca Agmarani untuk memperkuat pengetahuan anak tentang keuangan sejak dini.
“Projek ini menjadi wadah mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinannya, membangun kepedulian sosial dan juga menerapkan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dipelajari selama di bangku perkuliahan,” kata dosen pengampu mata kuliah kepemimpinan FKIP UMSU, Ismail Saleh Nasution, Selasa (13/10/2026).
Ismail mengatakan, interaksi langsung dengan masyarakat diharapkan membuat para calon guru mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang transformatif, adaptif dan responsif akan kebutuhan lingkungan.
"Pendidikan tidak berhenti ketika kegiatan belajar mengajar di sekolah berakhir. Guru perlu membangun keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan praktik pendidikan yang bermanfaat kepada murid, keluarga dan masyarakat," katanya.
Sementara itu, Pendiri Teras Baca Agmarani, Mahniar Sinaga mengatakan kehadiran mahasiswa PPG dapat memberikan energi baru dalam memperkuat gerakan literasi anak-anak di luar lingkungan sekolah.
Ia mengingatkan selain menjadi pemimpin pembelajaran di ruangan kelas, guru juga harus dirasakan perannya di tengah-tengah masyarakat. Hal ini juga disebut menjadi salah satu wujud implementasi kurikulum dalam kehidupan masyarakat.
“Murid perlu tahu bahwa sosok guru transformatif tidak hanya ditemui di sekolah, namun juga pada ruang belajar lainnya di masyarakat yang menghadirkan pengetahuan serta pengalaman bermakna,” ujar Mahniar.
Masyarakat, kata dia, butuh ruang belajar alternatif untuk menambah wawasan serta mempertajam kemampuan literasi anak di luar sekolah. Maka, keterlibatan calon guru dalam projek kepemimpinan ini menjadi kesempatan berharga bagi taman baca masyarakat (TBM) untuk mengembangkan program sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
“Kehadiran para calon guru tidak hanya membantu pelaksanaan kegiatan TBM, tetapi juga membawa gagasan, kreativitas dan energi baru untuk memperkuat gerakan literasi masyarakat,” tuturnya.
Selama projek berlangsung, ada tiga strategi penguatan literasi keuangan yang dibagikan kepada 25 anak-anak dalam tiga kali pertemuan.
Pertama, implementasi modul KLIK (Kelas Literasi Kreatif Keuangan) untuk mengenali perbedaan konsep kebutuhan dan keinginan. Dalam kegiatan yang dibawakan oleh pendiri Teras Baca Agmarani tersebut, mahasiswa juga turut memahami bahwa literasi keuangan bukan hanya tentang uang dan menabung, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan.
“Anak-anak diajak untuk paham bahwa pemenuhan kebutuhan harus menjadi prioritas, dan tidak semua hal yang diinginkan harus segera dibeli. Kita harap ini jadi bekal mahasiswa kelak ketika menjadi guru,” ucapnya.
Pada pertemuan kedua, mahasiswa membacakan cerita dengan bahan bacaan jenjang B3 yang dipadukan dengan permainan serta aktivitas kreatif.
Lewat strategi permainan literasi keuangan atau play shop, anak-anak belajar mengenal nilai uang, mempertimbangkan kebutuhan, dan menggunakan uang dengan tanggung jawab. Sementara mahasiswa berlatih memfasilitasi pembelajaran interaktif dengan menggabungkan literasi membaca, pemahaman konsep dan pengalaman praktis.
Pertemuan ketiga, mengimplementasikan U-Cash (Ular Tangga Cerdas dan Hemat) guna meningkatkan pemahaman anak tentang literasi keuangan, mengenali perilaku hemat, berpikir sebelum mengambil keputusan dan memahami konsekuensi dari pilihannya.
Mahasiswa juga berkesempatan untuk merancang pembelajaran kreatif yang berorientasi pada pengetahuan juga pembentukan kebiasaan dan karakter anak.
Interaksi antara mahasiswa dan anak-anak menjadi pengalaman penting untuk memahami karakteristik peserta didik, membangun komunikasi positif, mengelola aktivitas kelompok, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
“Tuntasnya projek para mahasiswa ini, menjadi bukti bahwa pembentukan kompetensi guru butuh pengalaman nyata di luar perkuliahan dan sekolah. Mereka butuh pengalaman langsung tentang merancang kegiatan, membangun kolaborasi,hingga merefleksikan dampak praktik yang dilakukan,” kata Mahniar.
Ia berharap para calon guru tersebut mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berdampak ke depannya. “Sebab, guru transformatif bukan hanya mengajar untuk menuntaskan materi di kelas, melainkan juga menggerakkan perubahan dan menumbuhkan kebermanfaatan di tengah masyarakat. Literasi, inspirasi, prestasi,” ucapnya.






















































