132 Siswa Dinyatakan Lolos Melalui Jalur Prestasi SMAN 2 Pematangsiantar

SMA Negeri 2 Pematangsiantar. (Foto: Dokumentasi Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Sebanyak 132 calon siswa dinyatakan lolos melalui Jalur Prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahap II di SMA Negeri 2 Pematangsiantar. Pihak sekolah resmi merilis daftar nama siswa yang diterima pada Jumat (26/6/2026).
Tahun ini, sebanyak 294 lulusan SMP berebut kursi di tahap ini. Padahal, daya tampung awal yang dipatok sekolah untuk Jalur Prestasi hanya 126 kursi. Namun, setelah pleno kelulusan akhir, jumlah tersebut bertambah menjadi 132 siswa yang dinyatakan lolos.
Persaingan paling sengit terjadi pada kategori prestasi akademik. Dari total 270 pendaftar, tim verifikator hanya meloloskan 114 orang. Sementara itu, untuk kategori nonakademik, persaingannya sedikit lebih longgar. Sebanyak 18 siswa dinyatakan lulus dari total 24 pendaftar yang mengajukan berkas.
Kepala SMAN 2 Pematangsiantar, Rosmely Damanik, melalui Humas Sekolah, Salomo Krisman Silalahi, menceritakan bagaimana posko pengaduan sekolah terus didatangi orang tua murid selama masa pendaftaran. Masalah utamanya klasik, yakni gagap teknologi atau kebingungan menggunakan sistem pendaftaran daring (online).
"Ternyata masih banyak sekali orang tua yang bingung alur pendaftarannya harus mulai dari mana. Jadi, kemarin petugas kita di posko lebih banyak mengambil peran untuk mengedukasi dan menuntun mereka pelan-pelan," ujar Salomo saat berbincang dengan Mistar, Senin (29/6/2026).
Salomo juga membeberkan pertanyaan warga tidak hanya terkait Jalur Prestasi. Banyak orang tua yang berkonsultasi mengenai persiapan jalur lain, seperti zonasi, afirmasi, mutasi tugas orang tua, hingga kuota khusus bagi anak-anak korban bencana alam.
Selain persoalan sistem web yang membingungkan, dokumen yang tidak memenuhi ketentuan juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi panitia. Banyak pendaftar yang kurang teliti saat mengunggah berkas. Alhasil, tim verifikator sering mendapati hasil pindai (scan) rapor yang pecah, buram, atau format berkas yang keliru.
Menariknya, pihak SMAN 2 Pematangsiantar memilih tidak langsung menggugurkan siswa yang berkasnya bermasalah. Panitia justru menerapkan strategi jemput bola demi memastikan hak anak-anak untuk bersekolah tidak hilang begitu saja.
"Setiap kali tim verifikator menemukan berkas yang buram atau salah format, kami tidak langsung mencoret. Anggota panitia langsung bergerak cepat menghubungi nomor WhatsApp siswa atau orang tuanya. Kami minta mereka memperbaiki hari itu juga dan mengirim ulang dokumen yang benar," tutur Salomo. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
60 Ribu Lebih Pendidik Mulai Ikuti PPG Guru Tertentu 2026






















