Thursday, October 8, 2026
home_banner_first
OTOMOTIF

Mercedes-Benz Tertekan di China, Tapi Penjualan BEV Meledak 52 Persen

Mistar.idKamis, 8 Oktober 2026 pukul 17.53 WIB
mercedesbenz_tertekan_di_china_tapi_penjualan_bev_meledak_52_persen

Mercedes-Benz Tertekan di China, Tapi Penjualan BEV Meledak 52 Persen. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (8/10/2026) — Mercedes-Benz menghadapi paradoks di kuartal III 2026: penjualan mobil turun 8 persen, tetapi Battery Electric Vehicle (BEV) atau kendaraan listrik baterai justru melonjak 52 persen. China menjadi sumber tekanan terbesar bagi penjualan Mercedes-Benz Cars, sekaligus salah satu pasar terpenting bagi strategi elektrifikasi perusahaan.China menjadi sumber tekanan terbesar bagi penjualan Mercedes-Benz Cars, sekaligus salah satu pasar terpenting bagi strategi elektrifikasi perusahaan.

Mercedes-Benz sedang menghadapi dua wajah pasar otomotif yang berbeda.

Di satu sisi, Mercedes-Benz Cars mencatat penjualan 407.200 unit pada kuartal III 2026, turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan terutama dipicu pasar China, tempat penjualan Mercedes-Benz anjlok 31 persen menjadi 86.800 unit.

Di sisi lain, permintaan mobil listrik justru melesat. Penjualan BEV Mercedes-Benz Group, yang mencakup mobil dan van, naik 52 persen menjadi 78.100 unit. Khusus Mercedes-Benz Cars, penjualan BEV bahkan mencetak rekor baru dengan pertumbuhan 61 persen menjadi 68.400 unit.

Paradoks ini menunjukkan bahwa persoalan Mercedes-Benz bukan sekadar lemahnya permintaan mobil listrik. Masalah utamanya adalah perubahan persaingan di China dan kecepatan transisi konsumen menuju generasi kendaraan baru.

China Menjadi Beban Terbesar Mercedes-Benz

China menjadi titik paling berat dalam laporan penjualan Mercedes-Benz.

Pada kuartal III, penjualan Mercedes-Benz Cars di China turun 31 persen. Secara kumulatif Januari-September 2026, penjualannya mencapai 297.000 unit, turun 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Mercedes-Benz menyebut kondisi pasar China yang menantang dan persaingan yang semakin ketat sebagai faktor utama.

Dampaknya terasa langsung terhadap kinerja global.

Menariknya, di luar China penjualan Mercedes-Benz Cars justru naik 1 persen. Eropa tumbuh 5 persen menjadi 168.700 unit, sedangkan Amerika Utara naik 4 persen menjadi 83.200 unit. Penjualan di AS sendiri meningkat 6 persen.

Artinya, penurunan 8 persen secara global tidak menggambarkan pelemahan yang merata. China adalah faktor utama yang menyeret kinerja Mercedes-Benz Cars.

EV Justru Tumbuh Pesat

Di tengah tekanan tersebut, kendaraan listrik Mercedes-Benz menunjukkan cerita yang sangat berbeda.

Mercedes-Benz Cars menjual 68.400 BEV pada kuartal III, naik 61 persen secara tahunan dan 29 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini menjadi rekor penjualan BEV kuartalan bagi Mercedes-Benz Cars.

Secara grup, termasuk bisnis van, penjualan BEV mencapai 78.100 unit atau naik 52 persen. Dalam sembilan bulan pertama 2026, penjualan BEV Group mencapai 191.400 unit, meningkat 38 persen.

Salah satu motor pertumbuhan terbesarnya adalah Mercedes-Benz electric GLC. Penjualannya pada kuartal III bahkan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal II.

Yang lebih menarik, Mercedes-Benz mengatakan electric GLC, keluarga CLA, GLB, dan GLA listrik sudah terjual habis di Eropa hingga akhir 2026, dengan pesanan yang membentang hingga 2027.

Fakta uniknya: Ketika penjualan total Mercedes-Benz Cars turun 8 persen, penjualan BEV justru melonjak 61 persen.

China: Masalah Sekaligus Kunci Masa Depan

Di sinilah strategi Mercedes-Benz menjadi menarik.

China bukan hanya pasar yang sedang menekan penjualan. Negara tersebut juga menjadi salah satu medan terpenting bagi Mercedes-Benz untuk membuktikan apakah strategi elektrifikasinya mampu bersaing.

Mercedes-Benz mulai memperkuat pendekatan “local for local”, termasuk menghadirkan kendaraan yang dikembangkan atau disesuaikan khusus untuk konsumen China.

Salah satunya adalah electric GLC L, yang mulai diluncurkan di China pada Juli 2026. Mercedes-Benz menyebut model tersebut mulai mendapatkan respons positif dan penjualannya terus meningkat.

Ini penting karena persaingan di China semakin berbeda dari pasar premium tradisional.

Konsumen China tidak hanya membandingkan Mercedes-Benz dengan BMW atau Audi. Merek premium global kini juga berhadapan dengan produsen China yang agresif dalam kendaraan listrik, teknologi digital, fitur kabin, dan kecepatan peluncuran produk.

Dengan kata lain, Mercedes-Benz tidak cukup hanya membuat EV. Perusahaan harus membuat EV yang benar-benar sesuai dengan ekspektasi konsumen China.

Mobil Listrik Menjadi Titik Balik?

Data kuartal III memberikan sinyal bahwa model-model EV terbaru Mercedes-Benz mulai mendapatkan tempat di pasar.

Segmen Core mencatat penjualan 234.200 unit, turun 6 persen secara tahunan. Namun di luar China, segmen ini justru tumbuh 5 persen. Electric GLC disebut menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut.

Pada segmen Entry, penjualan 119.200 unit memang masih turun 4 persen secara tahunan. Namun dibandingkan kuartal II, penjualan meningkat 8 persen, didorong ekspansi model CLA generasi baru ke lebih banyak pasar.

Sementara itu, segmen mobil kelas atas atau Top-End masih tertekan. Penjualannya turun 21 persen menjadi 53.900 unit, terutama karena kondisi China dan pergantian model.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa Mercedes-Benz sedang berada dalam fase peralihan portofolio: model lama menghadapi tekanan, sementara model generasi baru mulai menunjukkan momentum.

Paradoks Mercedes-Benz pada 2026

Laporan kuartal III memperlihatkan tiga fakta penting.

Pertama, China adalah masalah terbesar. Penurunan 31 persen di China cukup dalam untuk menyeret penjualan global Mercedes-Benz Cars.

Kedua, pasar di luar China relatif lebih kuat. Eropa dan Amerika Utara justru mencatat pertumbuhan.

Ketiga, EV berkembang jauh lebih cepat daripada bisnis secara keseluruhan. Penjualan BEV Mercedes-Benz Cars naik 61 persen, sementara penjualan total turun 8 persen.

Karena itu, angka penjualan Mercedes-Benz tidak tepat jika hanya dibaca sebagai cerita tentang penurunan.

Mercedes-Benz memang sedang kehilangan volume di China, tetapi pada saat yang sama berhasil meningkatkan momentum kendaraan listrik.

Tantangannya sekarang adalah apakah pertumbuhan EV tersebut cukup cepat untuk menutup tekanan dari pasar China dan penurunan pada sebagian model bermesin konvensional.

Bagi Mercedes-Benz, China akhirnya menjadi lebih dari sekadar pasar besar. China adalah ujian apakah merek premium Jerman itu mampu beradaptasi dengan era baru otomotif—ketika mobil listrik, software, teknologi kabin, dan kecepatan inovasi menjadi sama pentingnya dengan nama besar sebuah merek.

Jika berhasil, China dapat kembali menjadi mesin pertumbuhan. Jika gagal, penurunan penjualan di negara tersebut berisiko menjadi persoalan yang lebih struktural bagi Mercedes-Benz.

(mercedesbenzmedia/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN