Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
OLAHRAGA

Lucas Pinheiro Braathen Raih Emas Slalom Raksasa Olimpiade 2026, Ukir Sejarah untuk Amerika Selatan

Mistar.idMinggu, 15 Februari 2026 pukul 08.47 WIB
lucas_pinheiro_braathen_raih_emas_slalom_raksasa_olimpiade_2026_ukir_sejarah_untuk_amerika_selatan

Lucas Pinheiro Braathen dari Brazil memegang medali emasnya (Foto: AP)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Atlet ski alpine Lucas Pinheiro Braathen mencetak sejarah besar di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026. Tampil tenang dan penuh kontrol, Braathen sukses meraih medali emas slalom raksasa putra di lintasan Stelvio, Bormio, sekaligus mempersembahkan emas Olimpiade Musim Dingin pertama bagi Amerika Selatan.

Braathen, yang kini membela Brasil, mencatatkan waktu gabungan 2 menit 25,00 detik. Ia menjadi yang tercepat di etape pertama dan mampu menjaga konsistensi di etape kedua dalam kondisi lintasan yang semakin dingin dan menantang.

Swiss Dominan, Namun Braathen Tak Tergoyahkan

Pesaing terdekat Braathen datang dari Swiss. Marco Odermatt harus puas dengan medali perak setelah tertinggal 0,58 detik. Ini menjadi medali perak keduanya di Olimpiade kali ini setelah sebelumnya meraih perak di nomor kombinasi tim dan perunggu di super-G.

Sementara itu, rekan setim Odermatt, Loïc Meillard, melengkapi podium dengan medali perunggu, terpaut 1,17 detik dari catatan waktu Braathen.

Menang dengan Intuisi dan Hati

Usai memastikan emas Olimpiade, Braathen menegaskan bahwa kemenangannya bukan soal statistik maupun sejarah.

“Hari ini saya bermain ski sepenuhnya berdasarkan intuisi dan hati saya. Saya hanya ingin bermain ski sebagai diri saya sendiri,” ujar Braathen.

Menurut atlet berusia 25 tahun itu, performa terbaik justru muncul ketika ia melepaskan beban dan fokus pada gaya bermainnya sendiri.

Tonggak Bersejarah bagi Amerika Latin

Prestasi Braathen menjadi pencapaian tertinggi atlet Amerika Latin dalam sejarah Olimpiade Musim Dingin. Sebelumnya, catatan terbaik diraih oleh Isabel Clark Ribeiro yang finis di peringkat kesembilan snowboard cross pada Olimpiade Torino 2006.

Di cabang ski alpine, rekor terbaik sebelumnya dipegang oleh Thomas Grob, yang menempati posisi ke-11 pada nomor kombinasi Olimpiade Nagano 1998.

Perjalanan Panjang hingga Membela Brasil

Braathen lahir di Oslo dari ayah berkebangsaan Norwegia dan ibu asal Brasil. Meski dibesarkan di Norwegia, ia rutin mengunjungi Brasil sejak usia 11 tahun dan tumbuh dengan dua bahasa: Norwegia dan Portugis.

Setelah berselisih dengan federasi ski Norwegia terkait hak sponsor, Braathen sempat mundur dari sirkuit Piala Dunia pada musim 2023/24. Ia kembali berkompetisi pada Oktober 2024 dengan membawa bendera Brasil.

Sejak saat itu, Braathen mengoleksi sembilan podium Piala Dunia—lima di slalom raksasa dan empat di slalom—termasuk satu kemenangan di Levi, Finlandia.

Klimaks Dramatis di Lintasan Stelvio

Final slalom raksasa di lintasan Stelvio berlangsung dramatis. Beberapa nama besar seperti Atle Lie McGrath, Henrik Kristoffersen, hingga Thomas Tumler silih berganti memimpin sebelum Odermatt sempat merebut posisi teratas.

Namun, Braathen tampil terakhir dan kembali menunjukkan ketenangan luar biasa. Meski hanya mencatatkan waktu tercepat ke-11 di etape kedua, keunggulan dari putaran pertama sudah cukup untuk memastikan kemenangan meyakinkan.

Di garis finis, Braathen tak kuasa menahan air mata. Ia mengangkat satu ski ke udara, disambut sorak sorai penonton, sebelum memeluk ayahnya, Bjorn—sebuah penutup emosional untuk momen bersejarah Olimpiade Musim Dingin 2026.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN