Newsroom: Tiga Bulan Pascabencana, Pengungsi Huntara Pinangsori Menanti Janji Negara

Newsroom: Tiga Bulan Pascabencana, Pengungsi Huntara Pinangsori Menanti Janji Negara
Newsroom: Tiga Bulan Pascabencana, Pengungsi Huntara Pinangsori Menanti Janji Negara
Tapanuli Tengah, MISTAR.ID
Tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah pada 25 November 2026. Namun bagi ratusan kepala keluarga yang kini bertahan di Hunian Sementara Asrama Haji Pinangsori, waktu terasa berjalan lambat, penuh ketidakpastian dan penantian panjang atas bantuan yang dijanjikan.
Data hasil sinkronisasi BPBD Tapteng dan Basarnas pada Sabtu (27/2/2026) mencatat 296.453 jiwa terdampak bencana. Sebanyak 723 kepala keluarga masih mengungsi, 131 jiwa meninggal dunia, dan 33 orang dinyatakan hilang. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret penderitaan warga yang hingga kini masih berjuang bangkit dari keterpurukan.
Di salah satu kamar berukuran 4x4 meter di Huntara, Tulus Parlindungan Sihombing tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Ruangan itu menjadi tempat tidur, dapur, sekaligus ruang berkumpul keluarga. Kasur tipis terhampar di lantai, pakaian tergulung di sudut ruangan, sementara rak piring dan peralatan masak menempel di dinding.
Tulus, yang sebelumnya bekerja sebagai pedagang di Desa Pagaran Honas, Kecamatan Badiri, mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah pusat sejak dipindahkan ke Huntara. Sudah lebih dari satu bulan, ia dan keluarganya tinggal di lokasi tersebut tanpa bantuan yang dijanjikan.
Awalnya, Tulus dan keluarganya sempat mengungsi di tenda darurat di Desa Kebun Pisang. Saat itu, dapur umum masih tersedia dan bantuan makanan serta layanan kesehatan berjalan. Namun setelah para pengungsi dipindahkan ke Huntara karena lokasi lama direncanakan menjadi tempat pembangunan hunian tetap, dapur umum tidak lagi disediakan. Setiap keluarga kini harus bertahan secara mandiri.
Untuk kebutuhan makan sehari-hari, Tulus mengandalkan bantuan dari para donatur yang datang sewaktu-waktu. Jika ada bantuan, mereka bisa makan. Jika tidak, mereka hanya bisa bersabar. Kondisi itu semakin terasa berat di bulan Ramadan. Bagi pengungsi yang beragama Islam, sahur dan berbuka dijalani dengan segala keterbatasan, terkadang hanya dengan nasi putih dan air putih.
Selain kebutuhan pangan, persoalan pendidikan anak juga menjadi beban. Tulus terpaksa memindahkan anaknya bersekolah ke Sitonong Bangun. Setiap hari ia harus memikirkan ongkos dan uang jajan, bahkan terpaksa berutang sambil menunggu bantuan yang belum juga cair.
Harapan kini tertuju kepada Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat agar segera memperhatikan nasib para pengungsi. Tulus berharap negara benar-benar hadir dan tidak membiarkan mereka larut dalam keputusasaan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Agus Zainal Arifin, memastikan bantuan meliputi jaminan hidup, bantuan kerusakan rumah, serta stimulus pemulihan ekonomi segera diproses. Pemerintah, menurutnya, tengah melakukan verifikasi data bersama pemerintah daerah dan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi agar bantuan bisa segera dicairkan.
Bagi para pengungsi di Huntara Pinangsori, harapan itu sederhana — bantuan yang benar-benar tiba, kepastian untuk bangkit, dan kehadiran negara di tengah hidup yang masih penuh keterbatasan. (hm21).
BERITA TERPOPULER























