Sunday, July 12, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Relawan WNI Flotilla Ungkap Dugaan Penyiksaan oleh Tentara Israel

Mistar.idMinggu, 24 Mei 2026 pukul 21.09 WIB
relawan_wni_flotilla_ungkap_dugaan_penyiksaan_oleh_tentara_israel_

WNI relawan Global Sumud Flotilla 2026 tiba di Bandara Soetta. (foto: detik/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumud Flotilla 2026 yang sebelumnya ditahan pasukan Israel telah tiba di Indonesia. Salah seorang relawan, Herman Budianto Sudarson, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan dugaan penyiksaan yang dialaminya selama penahanan.

Momen haru itu terjadi saat konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026). Herman mengungkap banyak relawan mengalami luka serius selama proses penahanan.

“Banyak yang mengalami cedera berat. Ada yang rusuknya patah, tangan dan kaki patah, hidung patah, bahkan ada yang ditembak,” ujarnya.

Ia juga menyebut adanya dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah relawan, baik laki-laki maupun perempuan, selama berada dalam tahanan. “Banyak juga kasus pelecehan seksual yang dialami relawan dalam proses penahanan yang panjang itu. Kami diperlakukan tidak manusiawi,” katanya.

Di tengah penuturannya, Herman menangis ketika menyampaikan bahwa penderitaan mereka belum sebanding dengan kondisi masyarakat Palestina.

“Semua ini tidak membuat kami merasa paling berjasa. Apa yang kami alami sangat kecil dibanding penderitaan saudara-saudara kita di Palestina,” ucapnya sambil menahan tangis.

Relawan lainnya, Rahendro Heruwibowo, juga mengaku mengalami kekerasan fisik selama ditahan. Ia mengaku sempat dipukul, diinjak, hingga disetrum oleh tentara Israel.

“Saya dipukul di kepala berkali-kali, badan bagian depan dan belakang juga dipukul. Saya sempat jatuh lalu diinjak. Terakhir saya disetrum sampai saya berteriak keras, baru mereka berhenti,” ucapnya.

Menurut Rahendro, perlakuan kasar terjadi selama proses pemindahan ke daratan. Ia menyebut para relawan ditempatkan di ruangan-ruangan yang diduga disiapkan untuk interogasi dan penyiksaan.

“Tangan kami diborgol sangat kencang, lalu dipermainkan. Saat berjalan harus menunduk, kalau jatuh ditendang,” katanya.

Sebelumnya, kesembilan relawan tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 16.25 WIB dengan mengenakan keffiyeh, syal khas Palestina. Kedatangan mereka disambut keluarga dan kerabat yang membawa bendera Palestina serta spanduk dukungan.

Penangkapan terhadap sembilan WNI itu bermula ketika pasukan Israel mencegat kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF), Senin (18/5/2026). Sejumlah kapal bantuan dicegat secara bertahap hingga para relawan ditahan.

Seluruh relawan, termasuk sembilan WNI, akhirnya dibebaskan, Kamis (21/5/2026) waktu setempat dan diterbangkan lebih dahulu ke Turki menggunakan pesawat sewaan otoritas setempat.

Berikut daftar sembilan WNI relawan GSF yang sempat ditahan Israel:

Herman Budianto Sudarson (GPCI–Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro

Ronggo Wirasanu (GPCI–Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro

Andi Angga Prasadewa (GPCI–Rumah Zakat) – Kapal Josef

Asad Aras Muhammad (GPCI–Spirit of Aqsa) – Kapal Kasr-1

Hendro Prasetyo (GPCI–SMART 171) – Kapal Kasr-1

Bambang Noroyono (Republika) – Kapal BoraLize

Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) – Kapal Ozgurluk

Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) – Kapal Ozgurluk

Rahendro Heruwibowo (Tim Media GPCI dan iNews) – Kapal Ozgurluk.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN