Karni Ilyas Jadi Komisaris Independen DEWA, Langkah Baru Sang Jurnalis Senior di Dunia Korporasi

Karni Ilyas Jadi Komisaris Independen DEWA. (foto:wikipedia/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (30/6/2026) – Nama Karni Ilyas kembali menjadi perhatian publik. Kali ini bukan karena kiprahnya sebagai jurnalis senior atau moderator diskusi politik, melainkan langkah barunya di dunia korporasi.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) resmi mengangkat Karni Ilyas sebagai Komisaris Independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Keputusan tersebut disetujui bersamaan dengan pembagian dividen tunai perdana sepanjang sejarah perusahaan kontraktor tambang yang berada di bawah Grup Bakrie tersebut.
Masuknya Karni ke jajaran Komisaris Independen langsung menarik perhatian. Setelah lebih dari lima dekade dikenal sebagai salah satu ikon jurnalistik Indonesia, ia kini dipercaya mengemban peran strategis dalam tata kelola perusahaan terbuka.
Benarkah Karni Ilyas Diangkat Menjadi Komisaris Independen DEWA?
Ya. Berdasarkan hasil RUPST, pemegang saham menyetujui perubahan susunan dewan komisaris dan direksi, termasuk pengangkatan Karni Ilyas sebagai Komisaris Independen.
Karni bergabung bersama komisaris independen lainnya, yakni Suadi Atma, Gories Mere, dan Agus Suharyono. Penunjukan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya setelah lama berkecimpung di dunia media, komunikasi publik, serta pengamatan isu hukum dan politik nasional.
Siapa Karni Ilyas?
Karni Ilyas merupakan salah satu wartawan paling berpengaruh di Indonesia. Pria bernama lengkap Sukarni Ilyas itu lahir di Balingka, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 25 September 1952.
Meski menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ia menghabiskan sebagian besar perjalanan profesionalnya di dunia jurnalistik. Latar belakang hukum yang dipadukan dengan pengalaman panjang sebagai wartawan membuat Karni dikenal memiliki analisis tajam terhadap persoalan hukum, politik, dan kebangsaan.
Rekam Jejak Karier
Karier jurnalistik Karni dimulai pada awal 1970-an sebagai wartawan Harian Suara Karya. Pada 1978, ia bergabung dengan Majalah Tempo dan berkembang menjadi editor yang menangani berbagai liputan investigatif serta isu nasional.
Kariernya terus menanjak hingga dipercaya memimpin Majalah Forum. Pada 1999, Karni menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV dan berperan mengembangkan program berita tersebut menjadi salah satu yang paling berpengaruh di Indonesia.
Ia kemudian melanjutkan kiprahnya di ANTV sebelum menjadi figur sentral dalam pengembangan tvOne. Namanya semakin dikenal luas melalui program Indonesia Lawyers Club (ILC), forum diskusi yang selama bertahun-tahun menjadi rujukan publik dalam membahas isu hukum, politik, ekonomi, dan sosial.
Sepanjang kariernya, Karni menerima berbagai penghargaan, di antaranya Bintang Mahaputera Utama, sejumlah penghargaan jurnalistik nasional, serta gelar Doktor Honoris Causa atas kontribusinya di bidang hukum dan komunikasi publik.
Mengapa Penunjukan Ini Menarik?
Penunjukan Karni Ilyas dinilai memiliki nilai strategis di tengah meningkatnya tuntutan penerapan Good Corporate Governance (GCG), transparansi, dan akuntabilitas perusahaan publik.
Komisaris independen berperan mengawasi kinerja direksi secara objektif sekaligus menjaga kepentingan seluruh pemegang saham. Pengalaman Karni dalam mengawal isu hukum, mengkritisi kebijakan publik, dan membangun komunikasi publik dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat fungsi pengawasan perusahaan.
Langkah ini juga mencerminkan semakin terbukanya perusahaan publik menghadirkan figur independen dari luar industri inti guna memperkuat tata kelola dan meningkatkan kepercayaan investor.
DEWA Bagikan Dividen Perdana
Selain mengangkat Karni Ilyas sebagai Komisaris Independen, RUPST juga menyetujui pembagian dividen tunai perdana sebesar Rp58,6 miliar atau Rp1,5 per saham.
Dividen tersebut setara sekitar 11,4 persen dari laba inti perseroan tahun 2025 yang mencapai Rp514,5 miliar dan menjadi dividen pertama sejak perusahaan berdiri.
Sepanjang tahun buku 2025, DEWA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp4,3 triliun.
Direktur DEWA, Ricardo Silaen, menyatakan pembagian dividen perdana merupakan bentuk apresiasi kepada pemegang saham sekaligus mencerminkan optimisme perusahaan terhadap prospek bisnis ke depan.
Perseroan juga menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola perusahaan, disiplin operasional, serta aspek Health, Safety, and Environment (HSE). Pembayaran dividen tunai final dijadwalkan pada 31 Juli 2026.
Pengangkatan Karni Ilyas sebagai Komisaris Independen DEWA menandai babak baru dalam perjalanan kariernya setelah lebih dari 50 tahun berkarya di dunia jurnalistik. Bagi perseroan, kehadiran Karni diharapkan memperkuat transparansi, independensi pengawasan, serta meningkatkan kepercayaan investor di tengah persaingan industri pertambangan yang semakin ketat.
(berbagaisumber/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Revisi UU Hak Cipta, Karya Jurnalistik Kini Dilindungi Royalti























