Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
NASIONAL

El Nino “Godzilla” Ancam Indonesia, Kemenkes Minta Warga Waspada

Mistar.idKamis, 26 Maret 2026 pukul 10.58 WIB
el_nino_godzilla_ancam_indonesia_kemenkes_minta_warga_waspada

Musim kemarau. (Foto: BPBD)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap potensi kemarau panjang akibat fenomena Elnino.

Fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang dijuluki “Godzilla” diperkirakan terjadi tahun ini. Kondisi tersebut diprediksi memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.

Menurut BRIN, El Nino yang disebut sebagai “Godzilla” merupakan anomali berupa peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator yang berdampak pada perubahan pola cuaca global.

"Kemenkes melalui Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit akan merilis Surat Edaran tentang Kesiapsiagaan Bidang Kesehatan Menghadapi Potensi Peningkatan Kebakaran Hutan dan Lahan, Polusi Udara serta Penyakit Terkait Iklim di Musim Kemarau," kata Aji dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026), dilansir dari detikcom.

"Maksud dan tujuan Surat Edaran ini untuk memberikan pedoman bagi kepala dinas kesehatan provinsi, kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, direktur/kepala rumah sakit, kepala besar/balai/loka kekarantinaan kesehatan, kepala balai besar/balai laboratorium kesehatan, serta kepala Puskesmas di seluruh wilayah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan dampak kesehatan akibat musim kemarau tersebut," lanjutnya.

Pihak Kemenkes menjelaskan, kemarau panjang berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, salah satunya penurunan kualitas udara. Minimnya hujan membuat proses pembersihan polutan secara alami (rain washing) berkurang.

"Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang rendah dapat menyebabkan proses pencucian polutan di udara oleh proses rain washing menjadi berkurang," kata Aji.

"Pada hari-hari yang sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi," sambungnya.

Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat, khususnya di daerah yang rawan. Dampaknya, kabut asap dapat memperburuk kualitas udara.

"Musim kemarau membawa perubahan cuaca yang drastis dengan meningkatnya suhu udara dan penurunan curah hujan, kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian penyakit tular vektor seperti Dengue dan Malaria," katanya.

"Kekeringan juga dapat menyebabkan penurunan kualitas air dan sanitasi, sehingga dapat meningkatkan kejadian diare, tifoid, kolera dan leptospirosis," tuturnya. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN