Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Dampak Buruk Mengandalkan AI bagi Jurnalis, Ini Peringatan Pakar Komunikasi

Mistar.idSelasa, 10 Februari 2026 pukul 11.06 WIB
dampak_buruk_mengandalkan_ai_bagi_jurnalis_ini_peringatan_pakar_komunikasi

Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain. (foto:istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kian menantang masa depan jurnalisme. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan kecepatan dan efisiensi produksi berita, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran serius terhadap akurasi, etika, serta peran insan pers.

Di tengah maraknya misinformasi dan disinformasi di ruang digital, AI dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik serta mengancam prinsip-prinsip dasar jurnalisme yang selama ini dijaga media massa.

Pakar Ilmu Komunikasi, Prof. Iskandar Zulkarnain, menyampaikan dampak buruk jika insan pers terlalu mengandalkan AI dalam kerja jurnalistik. Beberapa poin yang disorotnya, AI memiliki sejumlah kelemahan yang harus dipahami jurnalis sehingga tidak bisa dijadikan sandaran sepenuhnya.

AI dinilai kurang memiliki pemahaman konteks, kreativitas yang terbatas, potensi ketidakakuratan dan bias, serta tidak mampu menggantikan interaksi manusia. Menurut Prof. Iskandar, AI sering kali kesulitan memahami konteks sosial, budaya, dan nuansa mendalam dalam sebuah berita.

“Sedangkan jurnalis (manusia) mampu menangkap emosi dan implikasi dari berita tersebut,” katanya.

Selain itu, AI juga dinilai memiliki kreativitas yang terbatas. “Meski AI dapat menghasilkan teks, namun tidak memiliki kreativitas dalam menyampaikan cerita, narasi yang menarik, dan sudut pandang yang unik. Hal ini sulit direproduksi oleh mesin,” ujarnya.

“AI juga berpotensi menghasilkan informasi yang bias atau salah karena algoritma yang digunakan berdasarkan data yang tersedia. Hal ini bisa menimbulkan misinformasi di masyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan, kelemahan lainnya adalah AI tidak memiliki interaksi seperti yang dimiliki manusia. “Jurnalisme juga melibatkan interaksi manusia, wawancara, dan penggalian informasi yang mendalam. AI tidak dapat menggantikan pengalaman interpersonal jurnalis,” katanya.

Meski demikian, Iskandar mengakui keberadaan AI dapat memberikan efisiensi dan kecepatan. AI mampu memproses data dengan cepat dan membantu jurnalis menghasilkan berita dalam waktu yang lebih singkat. AI juga dapat menganalisis data dalam jumlah besar untuk menemukan tren atau pola yang mungkin tidak terdeteksi manusia.

Ia juga menyoroti fungsi AI dalam otomatisasi tugas rutin. Tugas-tugas berulang seperti penyuntingan, proofreading, atau penulisan laporan standar dapat dilakukan oleh AI, sehingga jurnalis dapat lebih fokus pada aspek kreatif.

“Selain itu, akses ke berita 24/7. Artinya, AI dapat mengumpulkan dan memberitakan informasi baru dengan cepat, sekitar satu jam, dan berjalan 24 jam dalam tujuh hari. Ini dapat meningkatkan kemampuan media dalam menyajikan berita terbaru secara cepat,” katanya.

Degradasi dan Misinformasi

Saat ini, tidak sedikit media yang mulai menjadikan AI sebagai andalan dalam pengelolaan berita. Namun, Prof. Iskandar, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU), mengingatkan agar jurnalis menyadari dampak buruk dari ketergantungan tersebut.

“Degradasi kualitas berita. Jika terlalu banyak mengandalkan AI, kualitas berita dapat menurun karena kurangnya kedalaman analisis dan perspektif manusia,” katanya.

Selain itu, potensi misinformasi juga menjadi ancaman. Kesalahan algoritma atau bias data dapat menyebabkan penyebaran informasi keliru yang menyesatkan masyarakat.

“Mengurangi keberagaman suara. Ketika AI digunakan untuk menghasilkan berita, cerita cenderung menjadi homogen dan kurang mewakili berbagai perspektif di masyarakat,” kata Iskandar.

Ia juga menyoroti ancaman terhadap profesi jurnalis. Ketergantungan pada teknologi AI dapat berdampak pada berkurangnya lapangan pekerjaan, terutama jika tugas-tugas jurnalistik digantikan oleh sistem otomatis.

Selanjutnya, Iskandar menyebut AI berpotensi melemahkan sikap kritis jurnalis. “Bergantung pada AI, ada kemungkinan jurnalis menjadi kurang kritis terhadap sumber dan informasi yang dihasilkan, sehingga menurunkan standar keakuratan dan kebenaran fakta,” ujarnya.

Iskandar menegaskan, AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu, bukan sumber utama. Jurnalisme tetap harus berbasis kebijaksanaan, pertimbangan etis, dan interaksi manusia.

Ketergantungan pada pelaporan otomatis dikhawatirkan mengikis kualitas penilaian editorial dan menggeser tujuan jurnalisme. Tren ini juga berpotensi membentuk kebiasaan membaca generasi baru yang terbiasa dengan berita yang dingin dan kaku, sehingga menciptakan siklus penurunan kualitas jurnalisme dan ekspektasi pembaca. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN