Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
MEDAN

Siswa SD di NTT Bunuh Diri Cerminan Buruknya Masalah Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial di Indonesia

Mistar.idKamis, 5 Februari 2026 17.44
journalist-avatar-top
siswa_sd_di_ntt_bunuh_diri_cerminan_buruknya_masalah_pendidikan_dan_kesejahteraan_sosial_di_indonesia_

Siswa SD di NTT Bunuh Diri Cerminan Buruknya Masalah Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial di Indonesia

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kasus siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBR, 10 tahun, yang meninggal dunia mencuri banyak perhatian, serta tanggapan dari berbagai kalangan.

Penngamat pendidikan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Agus Suriadi, mengatakan ytragedi tersebut merupakan cerminan masalah mendasar dalam sistem pendidikan dan kesejahteraan sosial di Indonesia.

Di masyarakat, beredar kabar YBR mengakhiri hidupnya lantaran kecewa terhadap ibunya karena tak mampu membeli perlengkapan sekolah seperti buku tulis dan pulpen.

Agus mengatakan, meski pemerintah telah menyatakan komitmennya untuk menyediakan pendidikan wajib belajar selama 13 tahun, namun pada kenyataannya banyak siswa terutama di daerah terpencil seperti NTT, masih menghadapi berbagai kendala.

"Biaya pendidikan yang tidak hanya terbatas pada biaya sekolah, tetapi juga mencakup biaya transportasi, buku, dan kebutuhan sehari-hari, menjadi beban berat bagi banyak keluarga," kata dosen prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial USU tersebut, Kamis (5/2/2026).

Menanggapi sejumlah pemberitaan bahwa keluarga siswa yang bunuh diri tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, Agus mengatakan ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam sistem dukungan sosial.

"Banyak program bantuan yang seharusnya menyasar kelompok rentan tidak tepat sasaran atau tidak sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Hal ini menciptakan rasa putus asa dan ketidakberdayaan di kalangan masyarakat," ucap pengamat sosial itu.

Kasus ini, tambahnya, juga mencerminkan stigma yang masih melekat pada isu kesehatan mental di Indonesia. Di mana banyak anak dan remaja yang merasa tertekan tanpa adanya dukungan emosional yang memadai.

"Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk berkembang malah menjadi sumber tekanan yang berat,” ucapnya.

Tanggapan lainnya muncul dari penulis dan sosiolog, Okky Madasari. Dalam unggahannya di media sosial, Okky mengupload sejumlah foto dengan tulisan “September 2025: ibu dan 2 anak di Bandung mengakhiri hidup karena tekanan ekonomi. Februari 2026: anak 10 tahun di NTT bunuh diri karena tak bisa beli buku dan pensil. Dengan kementerian segitu banyak, program-program berbiaya fantastis, jelas ini kegagalan. Tanggung jawab!”


Penulis buku Wawasan Kebangsatan itu mempertanyakan bagaimana anggaran pendidikan saat ini. Mengapa sekadar menyediakan buku dan pensil yang adalah hak siswa saja negara tidak mampu?

Ia juga mengatakan, sejumlah pihak-pihak harus bertanggung jawab atas kejadian ini.

"Bupati dan dinas terkait, gubernur dan dinas terkait, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial, Presiden,” tulis Okky dalam unggahan di media sosialnya.

Unggahan tersebut juga mendapat tanggapan dari netizen yang menyebut:“Fakta bahwa tidak semua anak mampu membeli buku dan alat tulis yang layak. Sebagai guru SD di desa saya sering membelikan anak-anak murid saya alat tulis seragam dan sepatu. Faktanya memang begitu. Orang tua mereka buat makan saja susah,” tulis pemilik akun @idhasamong.

Akun @fatunizahamizan juga berkomentar “Saya guru juga miris. Gaji Rp600 ribu per bulan dan itu pun keluar tiga bulan sekali. Mau bantu murid yang kekurangan tapi apalah daya”.

Sebuah surat juga beredar di media sosial yang disebut sebagai tulisan tangan YBR. Berikut isi surat YBR:

Dilansir Mistar melalui laporan akhir tahun pada laman Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), disebutkan bahwa KPAI turut menyoroti kekerasan fisik dan psikis yang beririsan dengan perilaku menyakiti diri sendiri dan mengakhiri hidup pada anak, terutama pada usia transisi pendidikan. KPAI mencatatkan ada sebanyak 26 kasus anak yang mengakhiri hidup sepanjang 2025.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN