Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
MEDAN

Pelestarian Tradisi Spiritual, Umat Hindu Pemena Lakukan Ritual Erpangir Ku Lau di Sembahe

Mistar.idSenin, 16 Maret 2026 19.50
journalist-avatar-top
SH
pelestarian_tradisi_spiritual_umat_hindu_pemena_lakukan_ritual_erpangir_ku_lau_di_sembahe

Umat Hindu Pemena yang sedang melakukan ritual penyucian diri Erpangir Ku Lau di sungai Desa Sembahe. (foto: dok Kemenag Sumut/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Umat Hindu Pemena kembali melakukan ritual penyucian diri Erpangir Ku Lau di kawasan Sungai Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Sumatera Utara (Sumut), belum lama ini. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi praktik keagamaan, tetapi juga upaya menjaga identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo.

Kegiatan yang diselenggarakan Persatuan Hindu Pemena tersebut mendapat dukungan dari Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumut serta PHDI Sumut. Ritual dilakukan di tepi aliran Sungai Sembahe dan diikuti tokoh adat, pemuka agama, serta umat Hindu Pemena dari berbagai daerah di Sumut.

Ketua panitia dari Persatuan Hindu Pemena, Ari Riandi Surbakti, mengatakan ritual Erpangir Ku Lau memiliki makna lebih dari sekadar tradisi. Ia menyebut ritual ini memiliki nilai spiritual yang mendalam.

“Erpangir Ku Lau menjadi bentuk penyucian diri, dan membuat kita ingat untuk selalu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dibata (Tuhan),” kata Ari, Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan tradisi tersebut merupakan warisan leluhur masyarakat Karo yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.

Prosesi ritual diawali dengan doa bersama atau Ersudip yang dipimpin oleh pemuka adat dan pemangku ritual. Setelah itu dilakukan pemberkatan air pangir, yakni air yang dicampur dengan berbagai tumbuhan aromatik seperti aneka jeruk, daun-daunan, dan bunga yang melambangkan kesucian serta keseimbangan alam.

Selanjutnya para peserta mengikuti prosesi penyucian diri dengan menggunakan air pangir di aliran sungai. Dalam tradisi ini, air diyakini mampu membersihkan diri dari unsur-unsur negatif sekaligus menjadi sarana memohon keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Pembimbing Masyarakat Hindu, Elirosa Tarigan yang hadir mewakili Kakanwil Kemenag Sumut, menilai ritual ini menjadi bagian penting dalam menjaga kearifan lokal sekaligus memperkaya praktik keagamaan Hindu di Indonesia.

Menurutnya, secara filosofis Erpangir Ku Lau memiliki makna penyucian lahir dan batin. Air dipandang sebagai simbol kehidupan dan pemurnian, sementara pelaksanaan ritual di sungai menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta.

Ia juga menyebut tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang mewariskan nilai-nilai spiritual kepada masyarakat Karo.

“Pemerintah melalui pembinaan keagamaan akan selalu mendukung kegiatan-kegiatan serupa terutama yang menjaga tradisi spiritual masyarakat. Khususnya yang mengandung nilai budaya serta filosofi yang kuat,” ucapnya.

Elirosa menambahkan tradisi ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan masyarakat. Ia berharap, kehadiran generasi muda di sana dapat membuat tradisi ini tetap hidup dan dapat diwariskan ke generasi di masa depan.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN