Meracik Mimpi dari Kampus: Hasbi Agus Ananda Bangun Bisnis Roti hingga Coffee Shop Dua Gelas

Hasbi Agus Ananda menceritakan perjalanan bisnisnya saat ditemui di tempat usahanya. (Foto: Putra/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (18/10/2026) — Gelar sarjana pendidikan tak selalu berujung di ruang kelas. Hasbi Agus Ananda membuktikannya. Usai kuliah, ia memilih menekuni dunia usaha.
Keputusan itu bukan penolakan terhadap dunia pendidikan. Hasbi hanya merasa punya ketertarikan lebih besar pada bisnis. Minat itu tumbuh sejak ia masih berstatus mahasiswa.
"Semua punya jalannya masing-masing, semua punya pikirannya masing-masing," ujar Hasbi saat ditemui MISTAR.ID, Minggu (18/10/2026).
Baginya, pilihan karier tidak hanya ditentukan jurusan. Lingkungan, pengalaman, dan kesempatan ikut membentuk arah masa depan.
Berawal dari Jualan Risol di Kampus
Hasbi memulai usaha dari lingkungan terdekat, yakni kampus. Saat duduk di semester tiga, ia menjual risol kepada teman-teman di fakultas.
Belum genap dua minggu, ia memperluas jangkauan ke fakultas lain dengan memanfaatkan jaringan pertemanan. Ia tak selalu turun langsung, tetapi merekrut teman sebagai penjual.
Pola itu saling menguntungkan. Teman-temannya mendapat uang jajan tambahan, Hasbi mendapat keuntungan sekaligus pengalaman mengelola jaringan penjualan.
Dari kegiatan sederhana itu, ia belajar bahwa bisnis bukan sekadar membuat dan menjual produk. Ada strategi pemasaran, pengelolaan orang, dan kejelian membaca peluang.
Belajar Tahan Banting dari Bisnis Roti Keluarga
Kini, Hasbi menekuni bisnis roti dan makanan ringan. Usaha tersebut merupakan bisnis keluarga yang sudah ia ikuti sejak sekolah. Dari sanalah ia belajar memahami pasar.
Di balik produk yang terlihat sederhana, ada tantangan nyata. Harga bahan baku, terutama tepung, kerap naik. Namun, ia enggan mengorbankan kualitas demi menekan biaya.
Menurutnya, menaikkan harga tidak selalu menjadi solusi. Ketika biaya produksi naik sementara harga jual ditahan, keuntungan pun menipis.
"Kadang untungnya banyak, kadang ruginya banyak," ucapnya.
Hasbi juga tak segan turun langsung ke produksi. Saat pesanan harus siap pukul 06.30 WIB, ia sudah mulai bekerja sejak subuh, sebelum karyawan datang. Baginya, pemilik usaha harus siap terlibat dalam pekerjaan teknis demi menjaga kualitas dan ketepatan waktu.
Bukan Guru, tapi Tak Tinggalkan Nilai Pendidikan
Sebagai lulusan pendidikan, Hasbi paham besarnya tanggung jawab guru. Ia menyebut alasan tidak menjadi guru bukan soal gaji, melainkan soal panggilan minat.
"Menjadi guru maupun pengusaha sama-sama butuh komitmen, hanya bentuk tanggung jawab dan risikonya berbeda," katanya.
Jika ditanya soal rencana melanjutkan studi magister (S2), ia mengaku terbuka. Namun, ia akan memilih bidang bisnis, bukan pendidikan.
Dua Gelas: Tempat untuk Singgah dan Bercerita
Kini, Hasbi menyiapkan langkah baru bernama Dua Gelas. Usaha ini mengusung konsep angkringan modern yang dipadukan dengan kedai kopi semi-outdoor.
Dua Gelas dirancang dengan perpaduan unsur modern dan vintage. Material kayu dipadukan bangunan semen, dipermanis elemen taman, pepohonan, dan bunga.
Dari sisi menu, tersedia aneka kopi, minuman kekinian racikan sendiri, dan makanan ringan termasuk roti. Ia juga menyiapkan menu khas seperti nasi telur Pontianak yang jarang ditemui di angkringan pada umumnya.
Namun, identitas Dua Gelas bukan hanya soal tempat dan menu. Nama itu punya makna personal. Angka dua melambangkan dirinya dan sang adik yang berjuang bersama membangun usaha. Sementara gelas menjadi simbol wadah untuk berbagi cerita.
Lahirlah semboyan: Dua Gelas, Singgah dan Cerita.
Hasbi ingin Dua Gelas menjadi ruang berkumpul yang nyaman bagi semua kalangan, mulai dari teman, keluarga, hingga pasangan. Tempat untuk menikmati hidangan, bertukar cerita, dan menciptakan kenangan.
"Kawan-kawan datang dengan senyum, pulang dengan senyum," ujarnya.
Bertumbuh Tanpa Kehilangan Identitas
Hasbi sadar, membangun usaha baru penuh tantangan. Karena itu, ia ingin Dua Gelas memiliki konsep jelas, mulai dari pelayanan, suasana, harga, hingga pengalaman pelanggan.
Baginya, perkembangan usaha penting, tetapi tidak boleh menghilangkan karakter awal.
Ke depan, ia ingin bisnis roti keluarga dan Dua Gelas tumbuh berkelanjutan dan dikenal luas. Salah satu langkah yang sudah dilakukan adalah membuka outlet di lingkungan Universitas Medan Area (UMA).
Perjalanan dari menjual risol di kampus hingga menyiapkan kedai kopi menjadi bukti bahwa masa depan tak selalu harus mengikuti jalur yang sama. Bagi Hasbi, bisnis bukan sekadar mengejar untung, melainkan tentang proses belajar, kerja keras, dan meracik mimpi.(hm02)
BERITA TERPOPULER






BERITA TERPOPULER








































