Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Masyarakat Diingatkan Waspada Tawaran Produk Investasi

Mistar.idJumat, 3 April 2026 pukul 11.41 WIB
masyarakat_diingatkan_waspada_tawaran_produk_investasi

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin. (Foto: Istimewa)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kasus penggelapan dana Gereja Katolik Paroki Aek Nabara yang dilakukan eks pejabat BNI menambah daftar panjang praktik penggelapan oleh oknum pegawai bank. Produk fiktif “BNI Deposito Investment” yang menawarkan imbal hasil 8% per tahun menjadi sorotan.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap produk investasi yang menjanjikan keuntungan menggiurkan.

“Maka sebagai konsumen, perlu kehati-hatian tambahan saat ada tawaran produk,” ujarnya.

Dosen Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) ini menambahkan, bunga atau keuntungan sebesar 8% per tahun terbilang masuk akal. Angka tersebut masih bisa dicapai oleh produk keuangan yang sah di Indonesia.

“Makanya sangat menarik jika kita mengetahui portofolio jenis apa, serta pengelolaan seperti apa hingga melahirkan keuntungan yang dijanjikan sebanyak 8% tersebut,” jelas Gunawan.

Ia mencontohkan, jika produk bodong tersebut dijanjikan dan dikelola melalui reksa dana pasar saham, reksa dana campuran, investasi langsung di pasar saham, atau surat utang perusahaan swasta, maka angka 8% terbilang sangat mungkin.

“Angkanya terbilang tidak bombastis atau di luar nalar,” ujar Gunawan. Menurutnya, fund manager manapun tentu akan melihat adanya peluang dari produk sejenis itu.

Gunawan menekankan pentingnya klarifikasi menyeluruh bagi calon investor. “Sebaiknya untuk menghindari potensi penipuan, investor melakukan pengecekan lengkap terhadap produk yang ditawarkan. Misalnya dengan mencari tahu pengalaman investor lain, memeriksa informasi di website resmi bank, menanyakan langsung pada pegawai bank, atau mengedepankan sistem cek and balances.”

Pengalaman kasus ini, menurut Gunawan, harus menjadi pembelajaran agar masyarakat tetap waspada terhadap modus baru yang akan terus berkembang untuk memikat korban. (ril/hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN