Kisah Hari Irwanda: Dulu Marbot Masjid, Tujuh Kali Gagal Tes TNI, Kini Jadi Advokat di Kota Medan

Advokat Hari Irwanda. (Foto: Istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kehidupan selalu memberikan kisah-kisah inspiratif di dalamnya. Salah satunya kisah kehidupan yang menginspirasi datang dari seorang pria bernama Hari Irwanda atau Hari Bebek sapaan akrabnya.
Hari merupakan anak dari pasangan Syahril Jabar dan Fatimah. Hari anak ke-13 dari 16 bersaudara. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana di kota katanya metropolitan, yakni Kota Medan. Hidup pas-pasan sudah menjadi hal biasa di keluarganya.
Jangankan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, buat makan saja sulit. Begitulah kira-kira ungkapannya. Namun, kondisi tersebut tidak mematahkan semangat Hari untuk mewujudkan mimpi.
Ia perlahan demi perlahan menjalani roda kehidupan dengan penuh asa. Prinsip hidup pantang menyerah dan gigih dalam bekerja membuatnya terus melangkah ke depan tanpa sedikit pun mundur ke belakang.
Impiannya sangat mulia, pria kelahiran 18 Juni 1989 itu ingin sekali membantu orang banyak dalam menghadapi ketidakadilan. Hari mengawali mimpinya menjadi marbot Masjid Jamik Sairussalam, Jalan Selam IV No. 40 Medan, pada tahun 2010.
Selama menjadi marbot masjid, Hari banyak mendapatkan pelajaran tentang kehidupan. Ia mengaku dapat berdiri tegar hingga saat ini tak terlepas dari ilmu yang diperolehnya saat menjaga 'hotel bulan bintang', begitu sebutan masjid versi Hari.
"Setelah selesai pendidikan SMK, saya ingin sekali kuliah, tetapi sempat terhalang karena kondisi ekonomi. Namun, Allah membantu lewat orang baik yang berniat membiayai kuliah saya sampai selesai. Beliau adalah Ketua Badan Kenaziran Masjid (BKM) di tempat saya menjadi marbut," kata Hari kepada Mistar melalui sambungan seluler, Minggu (25/1/2026).
Hari pun memulai pendidikan di bangku perkuliahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dengan jurusan hukum di pertengahan tahun 2011.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Siswa SMA Negeri 2 Medan Masuk Empat Besar SNBP: Lelah, Jenuh, Tapi Tetap Bersinar
"Waktu itu di tahun 2010, awalnya sebenarnya dari ajakan hati yang berniat memakmurkan masjid, makanya saya pun tinggal di masjid itu. Selama jadi marbut, saya membersihkan masjid dan adzan untuk memanggil orang salat. Alhamdulillah saya selesai kuliah dengan biaya sendiri dan juga dibantu Pak BKM saat itu," ujarnya.
Sejak kuliah, Hari tak pernah bilang-bilang ke orang tuanya. Namun, saat hendak wisuda, Hari menyampaikan kepada orang tuanya untuk hadir ke kampus menghadiri wisuda. Seketika orang tuanya pun terkejut.
"Selama kuliah, sembari menjadi marbot masjid, saya juga bekerja sebagai sopir pick up untuk menambah operasional dan biaya kuliah saya," ucap pria yang saat ini bertempat tinggal di Jalan Selam VII No. 11 C, Kecamatan Medan Tembung itu.
Kurang lebih selama tiga tahun delapan bulan menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Hari akhirnya resmi menyandang gelar sarjana hukum tepat di tahun 2015.
Hari tak langsung menjadi advokat setelah tamat kuliah. Ia sempat menganggur kurang lebih setahun lamanya. Kemudian di tahun 2016, ia mendaftarkan diri sebagai peserta Pelatihan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang diselenggarakan Persatuan Advokat Indonesia (Peradi) Medan.
"Saya sempat tujuh kali mencoba tes TNI. Namun, belum rezeki saya dan saya tidak lulus di sana. Alhamdulillah atas izin Allah, saya menggapai impian membantu orang mencari keadilan dengan menjadi advokat. Saya diangkat menjadi advokat pada tahun 2019 hingga saat ini," tuturnya.
Selain menjadi advokat, Hari juga membuka usaha bengkel sepeda motor tepat di depan masjid tempat dirinya menjadi marbut dahulu. Hari mengaku tidak menyangka bisa sampai di titik ini.
"Ini sebuah mimpi yang alhamdulillah menjadi sebuah kenyataan. Kurang lebih selama sembilan tahun saya menjadi marbot masjid hingga akhirnya saya bisa seperti sekarang ini," ucapnya.






















