Ketua BEM UGM Diteror Usai Kritisi MBG, HMI Medan: Ancaman Demokrasi

Ketua Bidang Pembangunan Demokrasi dan Politik HMI Medan, Ilham Budiman Panggabean. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, diteror karena mengkritisi Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu.
Tindakan itu menuai reaksi dari berbagai pihak termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan. HMI Medan berpandangan aksi teror yang ditujukan kepada warga negara seusai mengkritisi kebijakan pemerintah jelas mengancam demokrasi dan kebebasan berekspresi.
"HMI Medan dengan tegas mengecam segala bentuk teror dan intimidasi terhadap Ketua BEM UGM. Aksi teror bukan sekadar serangan personal, melainkan ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan sipil," ucap Ketua Bidang Pembangunan Demokrasi dan Politik HMI Medan, Ilham Budiman Panggabean, dalam keterangan tertulis kepada Mistar, Jumat (27/2/2026).
Menurut Ilham, kampus merupakan ruang intelektual yang akal sehat dan kebebasan berpikirnya dilindungi, bukan justru menjadi tempat pembungkaman suara kritis.
"Teror terhadap Ketua BEM UGM tidak bisa direduksi menjadi persoalan individu. Ini preseden buruk bagi demokrasi, karena ketika mahasiswa mengkritisi kebijakan publik yang kemudian direspons dengan aksi teror, maka sesungguhnya fondasi demokrasi sedang dilemahkan," ujarnya.
Ilham mengatakan, pandangan Ketua BEM UGM tentang MBG, Koperasi Desa Merah Putih, maupun isu internasional merupakan argumentasi yang logis dan berbasis fakta.
"Kritik tersebut sesuai koridor akademik, rasional, dan sah dalam sistem negara demokrasi. Semestinya perbedaan sikap dari pihak yang dikritik dijawab dengan adu gagasan, bukan malah intimidasi dan teror," katanya.
Pihaknya mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama merawat kebebasan berekspresi di negara demokrasi ini. Kata Ilham, teror tidak boleh menjadi instrumen untuk membungkam kritik publik.
"Justru di tengah dinamika politik yang kompleks, bangsa ini membutuhkan lebih banyak keberanian berpikir jernih, berdialog terbuka, dan menghormati perbedaan pandangan sebagai energi perbaikan demokrasi ke depan," tuturnya. (hm20)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















