Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Jurnalis Perempuan Naik Panggung, Suarakan Nasib 13 Ribu Pengungsi Banjir Sumatra

Mistar.idJumat, 20 Februari 2026 10.12
AN
SH
jurnalis_perempuan_naik_panggung_suarakan_nasib_13_ribu_pengungsi_banjir_sumatra

Sejumlah jurnalis perempuan dan seniman Medan sedang berlatih untuk persiapan kegiatan pada Maret mendatang. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Di tengah suasana Ramadan, panggung teater akan menjadi ruang empati. Pada Sabtu, 7 Maret 2026, Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal, Medan, akan menjadi saksi pementasan teatrikal kemanusiaan bertajuk ‘Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan’.

Berbeda dari liputan biasanya yang disajikan dalam bentuk teks dan data, kali ini para jurnalis perempuan hadir dengan tubuh, suara, dan ekspresi di atas panggung.

Performance journalism tersebut digarap oleh pendiri Medan Teater Tronic (MTT), Hafiz Taadi, yang pernah berguru pada Rendra. Seusai pertunjukan dan sesi dialog, kegiatan akan dilanjutkan dengan silaturahmi serta buka puasa bersama.

Pementasan ini merupakan kolaborasi Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan Medan Teater Tronic. Ketua Umum FJPI, Khariah Lubis, menegaskan isu bencana di Sumatra tidak boleh tenggelam setelah sorotan kamera meredup.

Menurut perempuan yang akrab disapa Awi itu, justru setelah air surut, perjuangan pemulihan dimulai. Ia menyampaikan berdasarkan data Ketua Satgas Pemulihan Bencana Banjir di Pulau Sumatra, Tito Karnavian, sekitar 13 ribu warga masih bertahan di tenda pengungsian pada awal Ramadan, meski banjir telah berlangsung selama tiga bulan.

Sebagian warga, lanjutnya, kini tinggal di hunian sementara. Ada yang mendirikan tenda di atas puing rumah sendiri, menyewa tempat tinggal jika mampu, bahkan kembali ke rumah rusak dengan segala risiko.

“Isu bencana Sumatra ini harus terus naik di media supaya penanganan terhadap korban bisa cepat dan pasti,” kata Awi, Jumat (20/2/2026).

Ia menambahkan, korban bencana memiliki keterbatasan untuk bertahan lama di pengungsian. Karena itu, pementasan ini bukan sekadar panggung ekspresi, tetapi juga menjadi ruang penggalangan donasi yang hasilnya akan disalurkan langsung ke daerah terdampak.

“Ini bukan pertama kalinya FJPI menghadirkan jurnalisme lewat seni. Pada 2024, saat ulang tahun ke-17, kita mementaskan kisah-kisah jurnalis perempuan melalui pertunjukan dengan judul Tulang Panggang,” tuturnya.

Kini, panggung kembali dihidupkan untuk mengangkat jurnalisme bencana sebagai suara bagi mereka yang masih bertahan di pengungsian.

Awi menjelaskan, teater dipilih karena pers di berbagai negara terus mencari pendekatan kreatif dalam menyampaikan informasi. Melalui tubuh dan dialog, pesan dinilai mampu menembus sekat emosi dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Ia berharap teatrikal kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab pemulihan bukan hanya milik korban, tetapi juga pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

Sementara itu, Ranggini selaku penggagas ide dan penulis naskah mengatakan kolaborasi ini menjadi upaya memperluas gerakan literasi, tidak hanya melalui baca-tulis, tetapi juga karya seni yang membangkitkan kesadaran publik.

Menurut Ketua Rumah Literasi Ranggi itu, teater dapat menjadi medium kuat untuk menyuarakan nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial.

“Kita berharap kolaborasi ini dapat menjadi ruang refleksi bersama,” ucapnya.

Ia mengajak masyarakat hadir menyaksikan pertunjukan sekaligus berpartisipasi dalam gerakan kebaikan melalui dukungan dan donasi bagi korban banjir di Sumatra. Disebutkan bahwa donasi dapat disalurkan melalui Yayasan Rumah Literasi Ranggi.

“Kita juga berharap setiap kepedulian yang diberikan menjadi secercah harapan bagi warga yang sudah lebih dari tiga bulan terdampak banjir bandang di Sumatra,” katanya. (hm25)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN