Delay Akibat Kepadatan di Jeddah, 358 Jemaah Haji Kloter 2 Asal Langkat Tiba dengan Selamat

Jemaah Haji Kloter 2 asal Langkat debarkasi Medan baru tiba di Asrama Haji Medan setelah 5 jam delay. (foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Rombongan jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 2 Debarkasi Medan asal Kabupaten Langkat akhirnya tiba di Tanah Air melalui Bandara Internasional Kualanamu (KNIA), Deli Serdang, Rabu (3/6/2026) siang. Kedatangan kloter ini mengalami keterlambatan (delay) hingga lima jam dari jadwal yang direncanakan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Utara, Zulkifli Sitorus, mengatakan penundaan tersebut murni disebabkan oleh faktor kepadatan lalu lintas operasional di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, bukan karena kendala teknis pada armada pesawat.
Zulkifli memaparkan, jadwal pendaratan pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut Kloter 2 semula dijadwalkan bergulir pada pukul 08.15 WIB, namun realisasinya baru menyentuh landasan pacu sekitar pukul 13.00 WIB.
Zulkifli menyampaikan, pihak maskapai Garuda sudah menyampaikan bahwa keterlambatan ini dipicu oleh lambatnya pergerakan jemaah saat turun dari bus eksternal menuju terminal bandara di Jeddah.
"Mereka harus mengantre panjang untuk menggunakan fasilitas shuttle bus bandara kembali, sehingga memakan waktu lama. Pesawatnya sendiri sebenarnya sudah siap (ready), hanya proses pendorongan jemaah masuk ke bandara yang padat karena seluruh dunia sedang memulangkan jemaah secara bersamaan," kata Zulkifli saat menyambut jemaah di Asrama Haji Medan.
Secara rinci, Kloter 2 Debarkasi Medan didominasi oleh jemaah asal Kabupaten Langkat, ditambah satu jemaah mutasi dari Kabupaten Batubara. Namun, jumlah jemaah yang pulang ke daerah asal tidak lagi utuh akibat adanya peristiwa duka dan kendala kesehatan.
Tercatat, jemaah atas nama Nadhirah Sirajuddin Ismail (nomor manifes 233) dilaporkan wafat beberapa waktu lalu di Mina saat hendak kembali ke pemondokan hotel, dan jenazahnya telah dimakamkan di Makkah.
Selain itu, terdapat satu jemaah yang terpaksa ditinggal di Arab Saudi atas nama Wagini Kasan Winangun (nomor manifes 036). Jemaah tersebut mengambil skema tanazul keluar (menunda kepulangan) karena kondisinya medisnya sedang kritis dan harus dirawat intensif di Rumah Sakit Arab Saudi.
Wagini direncanakan akan dievakuasi pulang ke Indonesia mengikuti pola tanazul akhir bersama kloter berikutnya jika kondisinya membaik.
Merespons isu miring yang menyebut para jemaah haji terlantar tanpa mendapatkan jatah makan siang selama masa keterlambatan penerbangan, Kakanwil Kemenag Sumut secara tegas membantah hal tersebut dan memastikan pelayanan logistik berjalan sesuai Prosedur Tetap (Protap).
"Soal makanan ini sudah ada protap ketat. Di bandara Jeddah mereka dibekali dua kali paket makanan ringan (snack) dan jatah makan siang," ucapnya.
Di dalam kabin pesawat sudah disajikan makan, namun ada beberapa jemaah yang memilih tidak memakannya di pesawat dan menyimpannya di tas. "Sesaat setelah didorong dari bandara menuju Asrama Haji Medan, kami pun sudah menyiagakan hidangan makan siang hangat lengkap dengan kopi, teh, dan minuman hangat di aula," ujar Zulkifli.
Di penghujung prosesi penyambutan, Zulkifli menitipkan pesan spiritual yang mendalam bagi seluruh jemaah haji yang berhasil menuntaskan perjalanan ibadah fisik dan batin selama di Tanah Suci.
Menurut Zulkifli, predikat haji mabrur itu indikator utamanya adalah kemampuan membakar tiga sifat dasar manusia yang merusak, yaitu kesombongan, kerakusan, dan kedengkian.
Sifat-sifat buruk itu harusnya sudah hangus dibakar melalui proses talbiyah di Arafah dan tahapan haji lainnya. "Kami berharap sekembalinya ke masyarakat, jemaah bisa melestarikan kemabruran tersebut guna membangun nilai keadaban dan peradaban yang kokoh di Indonesia," tutur Zulkifli.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















