Varian Baru Covid-19 Cicada Terdeteksi Global, Ini Faktanya

Ilustrasi, Varian Baru Covid-19 Cicada. (foto:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Munculnya varian baru Covid-19 kembali menjadi perhatian dunia. Kali ini, subvarian yang dijuluki “Cicada” ramai diperbincangkan setelah terdeteksi di sejumlah negara dan disebut memiliki mutasi yang cukup banyak.
Meski belum dinyatakan sebagai varian yang lebih berbahaya, kemunculannya memicu pertanyaan publik: apa itu Cicada, bagaimana gejalanya, dan apakah sudah masuk Indonesia?
Berikut ulasan lengkapnya.
Apa Itu Varian Covid-19 Cicada?
“Cicada” adalah nama informal untuk subvarian SARS-CoV-2 dengan kode ilmiah BA.3.2, yang masih termasuk dalam keluarga besar Omicron.
Artinya, ini bukan virus baru, melainkan turunan dari varian Omicron yang telah mendominasi gelombang infeksi global dalam beberapa tahun terakhir.
Nama “Cicada” bukan istilah resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melainkan julukan yang muncul di media internasional dan komunitas ilmiah untuk memudahkan penyebutan.
Mengapa Disebut “Cicada”?
Julukan ini terinspirasi dari serangga sikada yang dikenal memiliki siklus hidup panjang di bawah tanah sebelum akhirnya muncul ke permukaan.
Subvarian BA.3.2 pertama kali terdeteksi pada November 2024 di Afrika Selatan. Namun, dalam beberapa bulan awal, keberadaannya relatif tidak dominan dan hanya teridentifikasi lewat surveilans genomik serta pemantauan limbah (wastewater surveillance).
Setelah periode “tenang” tersebut, kasusnya mulai meningkat di berbagai negara. Pola kemunculan inilah yang membuatnya dijuluki “Cicada”.
Apa yang Membuatnya Menarik Perhatian?
Varian Cicada dilaporkan memiliki sekitar 70–75 mutasi pada protein spike (lonjakan), bagian virus yang berperan penting untuk masuk ke sel manusia.
Protein spike juga merupakan target utama antibodi, baik dari vaksin maupun infeksi sebelumnya. Karena itu, jumlah mutasi yang cukup tinggi memunculkan kekhawatiran akan potensi “immune escape” atau kemampuan virus menghindari sebagian respons kekebalan tubuh.
Namun hingga kini, para ahli belum menemukan bukti kuat bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang lebih berat dibanding subvarian Omicron lain.
Bagaimana Cara Mengenali Varian Cicada?
Secara klinis, hampir tidak ada cara membedakan Cicada dari varian Covid-19 lainnya hanya berdasarkan gejala.
Tes antigen maupun PCR standar hanya dapat memastikan seseorang terinfeksi SARS-CoV-2, tetapi tidak bisa langsung menunjukkan jenis variannya.
Untuk memastikan apakah infeksi disebabkan BA.3.2, diperlukan pemeriksaan lanjutan melalui sekuensing genom di laboratorium rujukan.
Selain itu, banyak negara menggunakan pemantauan limbah untuk mendeteksi tren peningkatan varian tertentu sebelum lonjakan kasus klinis terjadi.
Gejala yang Dilaporkan
Sejauh ini, gejala yang muncul pada pasien yang terinfeksi Cicada dilaporkan mirip dengan infeksi Omicron pada umumnya, antara lain Demam, Batuk, Sakit tenggorokan, Pilek atau hidung tersumbat, Sakit kepala, dan Kelelahan. Pada sebagian kasus, gangguan pencernaan.
Banyak kasus juga dilaporkan tanpa gejala (asimptomatik), terutama pada individu yang sudah memiliki kekebalan dari vaksinasi atau infeksi sebelumnya.
Belum ada laporan ilmiah yang menunjukkan adanya gejala unik atau khas yang hanya muncul pada varian Cicada.
Apakah Lebih Berbahaya?
Berdasarkan data epidemiologis yang tersedia hingga Maret 2026, tidak ada bukti bahwa varian Cicada menyebabkan angka rawat inap atau kematian lebih tinggi dibanding subvarian Omicron lainnya.
Meski demikian, risiko tetap ada, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, penderita komorbid, dan individu dengan imunitas rendah.
Para pakar kesehatan menegaskan bahwa vaksinasi dan booster masih memberikan perlindungan signifikan terhadap penyakit berat dan kematian.
Sudah Menyebar ke Mana Saja?
Varian BA.3.2 atau Cicada telah terdeteksi di sedikitnya lebih dari 20 negara, termasuk sejumlah wilayah di Eropa, Amerika Serikat, dan Afrika.
Beberapa negara melaporkan peningkatan temuan melalui surveilans genom dan pemantauan limbah sebelum lonjakan kasus terjadi di masyarakat.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Hingga laporan ini disusun (Maret 2026), belum ada konfirmasi resmi dari otoritas kesehatan Indonesia mengenai temuan varian Cicada di dalam negeri. Namun, surveilans genomik tetap dilakukan untuk memantau perkembangan varian global.
Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?
Meski tidak dikategorikan lebih berbahaya, kemunculan varian baru mengingatkan bahwa virus SARS-CoV-2 terus bermutasi.
Langkah pencegahan tetap sama:
- Segera lakukan tes jika mengalami gejala mirip flu atau Covid-19
- Lengkapi vaksinasi dan booster sesuai anjuran
- Gunakan masker saat sakit atau berada di ruang tertutup berisiko
- Jaga kebersihan tangan dan etika batuk
Varian boleh berganti nama, tetapi prinsip perlindungan diri tetap tidak berubah.
(berbagaisumber/ai/hm27)






















