Tiga Tanaman Ini Berpotensi Jadi Obat Antikanker

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan potensi kombinasi kunyit, daun sirsak, dan bekatul beras hitam sebagai kandidat obat antikanker. Hasil riset menunjukkan kombinasi ketiga bahan alami tersebut mampu menghambat pertumbuhan sel kanker secara signifikan.
Penelitian dilakukan oleh Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional di bawah Organisasi Riset Kesehatan BRIN. Uji dilakukan secara in vitro terhadap sel kanker payudara T47D dan sel kanker kolon WiDr.
Peneliti Rizal Maarif Rukmana mengatakan penelitian ini dilatarbelakangi tingginya angka kasus kanker global yang mencapai lebih dari 32,6 juta kasus. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong pengembangan terapi alternatif berbasis bahan alam.
Dalam penelitian tersebut, ekstrak kunyit (Curcuma longa L.), daun sirsak (Annona muricata L.), dan bekatul beras hitam (Oryza sativa L.) diekstraksi menggunakan metode maserasi selama 3x24 jam. Selanjutnya dilakukan karakterisasi menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan Liquid Chromatography High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS).
“Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak kunyit, daun sirsak, dan bekatul beras hitam mengandung senyawa fenolik, flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan steroid yang berperan dalam aktivitas antikanker,” ujar Rizal dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026), dikutip dari CNBC Indonesia.
BRIN menemukan formula paling optimal untuk kanker payudara terdiri dari ekstrak kunyit 11,1 persen, daun sirsak 86,4 persen, dan bekatul beras hitam 2,5 persen dengan nilai IC50 sebesar 24,91 ± 0,81 µg/mL.
Sementara untuk kanker kolon, formula terbaik diperoleh dari kombinasi ekstrak kunyit 95,9 persen, daun sirsak 2,6 persen, dan bekatul beras hitam 1,5 persen dengan nilai IC50 sebesar 32,18 ± 2,38 µg/mL.
Menurut Rizal, hasil tersebut menunjukkan kombinasi bahan alam memiliki efek sinergis yang mampu menghasilkan aktivitas antikanker optimal.
Meski demikian, ia menegaskan penelitian masih berada pada tahap awal sehingga diperlukan pengujian lanjutan pada hewan hingga uji klinis pada manusia untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Riset ini menjadi bagian dari strategi BRIN dalam mengembangkan pemanfaatan sumber daya hayati lokal untuk mendukung kemandirian nasional di bidang kesehatan dan farmasi, khususnya penyediaan terapi antikanker yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. (hm25)
NEXT ARTICLE
Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia


















