Super Flu Masuk Indonesia, Cek Gejala hingga Cara Pencegahannya

Ilustrasi virus influenza. (Istockphoto/wildpixel)
Jakarta, MISTAR.ID
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa Influenza A (H3N2) subclade K, yang populer disebut “super flu”, telah terdeteksi di Indonesia sejak 25 Desember 2025. Meski begitu, kemunculan subclade ini disebut tidak mengubah situasi epidemi influenza secara nasional.
Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr Prima Yosephine, menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan tren kasus influenza justru mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir, dengan influenza A tetap menjadi varian yang paling banyak ditemukan.
“Kendati demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga, di antaranya dengan menggunakan masker saat kondisi tubuh tidak sehat, serta terus menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” kata dr Prima, dilansir dari detikcom, Kamis (1/1/2026).
Sebelumnya, subclade K ini menjadi perhatian dunia setelah memicu lonjakan signifikan kasus influenza di New York, Amerika Serikat. Hingga 20 Desember 2025, tercatat 71.123 kasus positif dalam satu pekan, yang menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah di wilayah tersebut.
Otoritas kesehatan New York menyebutkan lonjakan tersebut setara dengan kenaikan 38 persen dibanding pekan sebelumnya. Sementara itu, angka rawat inap akibat influenza meningkat 63 persen di seluruh negara bagian, dari 2.251 menjadi 3.666 kasus.
“Kami sedang mencermati data kapasitas tempat tidur rumah sakit untuk memahami tren rawat inap dan menentukan langkah respons yang diperlukan terhadap dampak infeksi virus pernapasan ini,” ujar Komisaris Kesehatan Negara Bagian New York, Dr James McDonald, seperti dikutip dari CBS News.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K), menyampaikan bahwa super flu diduga memiliki potensi dampak yang lebih berat dibanding influenza biasa. Namun, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang memastikan tingkat keparahan tersebut.
“Kalau influenza A biasa bisa menularkan ke dua sampai tiga orang, kemungkinan yang ini lebih tinggi. Tetapi penelitiannya masih berjalan, karena peningkatan kasus baru teramati dan data soal penularan, serta tingkat keparahan masih perlu dikaji lebih lanjut,” ujar dr Nastiti.
Ia menambahkan, sejauh ini gejala super flu masih serupa dengan influenza pada umumnya. Meski demikian, kewaspadaan tetap penting, terutama bagi kelompok rentan, karena influenza dapat berujung pada kondisi serius.
Gejala yang dapat muncul antara lain demam tinggi, nyeri tenggorokan, sakit kepala, menggigil, serta gangguan pernapasan.
dr Nastiti juga menegaskan bahwa vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif sebagai langkah pencegahan terhadap super flu. Dengan vaksinasi, diharapkan pasien yang terinfeksi tidak mengalami gejala berat hingga memerlukan perawatan di rumah sakit.
“Efektivitas vaksin berdasarkan penelitian sebelumnya cukup baik, sekitar 62 persen untuk mencegah penularan, dan lebih tinggi lagi dalam mencegah kematian,” ujarnya.
“Vaksin memang tidak selalu 100 persen mencegah penularan, tetapi perannya sangat penting untuk menurunkan tingkat keparahan penyakit,” tutur dr Nastiti.
Langkah Pencegahan dari Kemenkes
dr Prima menjelaskan bahwa dinamika kasus influenza kerap dipengaruhi oleh faktor cuaca, dengan peningkatan risiko pada musim hujan.
Ia mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mematuhi etika batuk dan bersin.
“Biasakan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, serta menggunakan masker bagi yang mengalami gejala,” kata dr Prima.
“Kami juga mengimbau masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala flu berat, batuk, pilek, atau tanda infeksi saluran pernapasan lainnya. Layanan pemeriksaan kesehatan gratis di puskesmas juga bisa dimanfaatkan,” ucapnya. (hm20)













