Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Muncul Super Flu Subklade K, Pakar Ungkap Risiko dan Gejalanya

Mistar.idSelasa, 30 Desember 2025 14.41
JS
muncul_super_flu_subklade_k_pakar_ungkap_risiko_dan_gejalanya

Ilustrasi penderita flu. (foto:alodokter/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Dunia medis global tengah menaruh perhatian serius terhadap munculnya varian baru influenza yang dikenal sebagai Subklade K.

Virus ini mulai mendominasi kasus flu di Inggris, Jepang, hingga Amerika Serikat (AS) dan dijuluki “Super Flu” karena kecepatan penularannya yang tinggi serta kemampuannya mengecoh sistem imun, termasuk pada individu yang telah divaksinasi.

Peneliti senior Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A. Adalja, M.D., menjelaskan bahwa Subklade K merupakan cabang mutasi terbaru dari virus Influenza A (H3N2) yang mulai terdeteksi secara masif sejak Juni 2025. Sejak kemunculannya, penyebaran virus ini menunjukkan akselerasi yang signifikan di berbagai negara.

Ada dua alasan utama mengapa varian ini mendapat perhatian khusus dari para pakar penyakit menular.

Pertama, ketidakcocokan dengan vaksin lama.

Dr. Adalja menyebutkan bahwa Subklade K telah bermutasi cukup jauh dari strain influenza yang terkandung dalam vaksin flu musiman. Akibatnya, risiko seseorang tetap terinfeksi meski sudah divaksin menjadi lebih tinggi.

Kedua, mutasi yang lebih agresif.

Professor penyakit menular University at Buffalo, Thomas Russo, M.D., mengungkapkan adanya mutasi spesifik yang membuat Subklade K lebih mudah menular antar-manusia dibandingkan varian H3N2 sebelumnya

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Masa inkubasi Subklade K berkisar antara 3 hingga 4 hari setelah paparan. Gejala yang umum dilaporkan antara lain:

- Batuk dan sakit tenggorokan

- Hidung berair atau tersumbat

- Nyeri otot dan nyeri badan hebat

- Sakit kepala

- Kelelahan ekstrem (fatigue)

Sejumlah pasien juga melaporkan sesak napas, nyeri dada, gangguan pencernaan, serta tubuh terasa lemah dalam waktu yang lama.

Pencegahan dan Upaya Mitigasi

Meski efektivitas vaksin terhadap Subklade K masih terus diuji, para ahli sepakat bahwa vaksinasi tetap menjadi perlindungan utama.

“Vaksin mungkin tidak sepenuhnya mencegah infeksi, tetapi sangat efektif dalam menurunkan risiko rawat inap, komplikasi berat, dan kematian,” tegas Dr. Russo, seperti dilansir Selasa (30/12/2025).

Selain vaksinasi, penggunaan masker di ruang tertutup dan padat tetap disarankan. Masyarakat yang mengalami gejala juga dianjurkan segera menjalani pemeriksaan laboratorium karena gejala Subklade K sangat mirip dengan Covid-19, sementara penanganan klinisnya berbeda.

Kelompok Usia dengan Risiko Tinggi

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), menekankan bahwa risiko komplikasi serius mengintai kelompok usia ekstrem, yaitu:

Balita, karena sistem imun yang masih berkembang. Lansia, akibat penurunan daya tahan tubuh secara alami

“Pada kelompok ini, infeksi influenza dapat menimbulkan keparahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya,” ujar dr. Nastiti dalam konferensi pers daring IDAI, Senin (29/12/2025).

Selain usia, individu dengan penyakit penyerta atau komorbid menjadi kelompok paling rentan. Infeksi Subklade K berpotensi memperburuk kondisi medis yang sudah ada, seperti:

- Penyakit jantung dan jantung bawaan pada anak

- Kanker dan infeksi HIV

- Gangguan autoimun dan penyakit rematik

- Pasien yang mengkonsumsi obat penekan sistem imun (imunosupresan)

Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menghimbau orang tua dengan anak berpenyakit bawaan untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Pada anak dengan komorbid, dampak influenza tipe A ini bisa jauh lebih berat,” tegasnya.

Istilah “Super Flu” mencuat setelah varian ini memicu lonjakan kasus signifikan di AS. New York bahkan sempat mencatat 71 ribu kasus dalam sepekan, dengan peningkatan hingga 104 persen di wilayah Manhattan.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa istilah “super” merujuk pada kecepatan penularan, bukan tingkat keganasan yang meningkat secara drastis.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan RI memastikan Subklade K belum terdeteksi di Indonesia, namun langkah antisipasi, surveilans, dan edukasi masyarakat terus diperkuat. (hm16)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN