Studi Nature: Makanan Manis saat Minum Antibiotik Dikaitkan dengan Penurunan Bakteri Baik Usus

Ilustrasi obat antibiotik (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula saat menjalani pengobatan antibiotik berpotensi berkaitan dengan terganggunya keseimbangan bakteri di usus. Temuan studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan, pasien yang mengonsumsi lebih banyak makanan manis saat menggunakan antibiotik spektrum luas cenderung mengalami penurunan keragaman mikrobioma usus.
Penelitian ini melibatkan 173 pasien kanker darah yang menjalani transplantasi sel punca. Dari jumlah tersebut, 138 pasien menggunakan antibiotik spektrum luas setelah mengalami demam atau diduga mengalami infeksi.
Peneliti menganalisis 1.009 sampel tinja dari 158 pasien dan membandingkannya dengan catatan konsumsi makanan. Hasil pemodelan statistik menunjukkan, setiap tambahan 100 gram makanan manis berkaitan dengan penurunan rata-rata keragaman bakteri sebesar 24,1 persen. Sementara itu, analisis berdasarkan kandungan nutrisi menemukan tambahan gula berkaitan dengan penurunan sebesar 20,6 persen untuk setiap 100 gram.
Selain penurunan keragaman bakteri, konsumsi makanan manis yang lebih tinggi juga berkaitan dengan peningkatan Enterococcus faecium. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi serius, termasuk infeksi aliran darah, dan sejumlah strain memiliki resistensi terhadap antibiotik.
Untuk menguji kemungkinan hubungan sebab-akibat, peneliti melakukan eksperimen pada tikus. Hewan yang menerima antibiotik sekaligus sukrosa memiliki jumlah enterokokus 16,3 kali lebih tinggi pada hari ketiga dan 33,4 kali lebih tinggi pada hari keenam dibandingkan tikus yang hanya menerima antibiotik.
Meski demikian, hasil eksperimen pada hewan tidak bisa langsung disamakan dengan kondisi manusia. Penelitian pada pasien juga bersifat observasional sehingga belum membuktikan bahwa gula secara langsung menyebabkan kerusakan mikrobioma atau meningkatkan risiko kematian.
Para peneliti menilai, studi lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah mengurangi konsumsi gula selama terapi antibiotik benar-benar dapat melindungi keragaman bakteri usus.
Temuan ini juga tidak berarti semua orang harus menghindari gula saat minum antibiotik. Sebagian besar peserta merupakan pasien kanker darah yang menjalani perawatan intensif, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi orang yang menggunakan antibiotik untuk infeksi ringan.
Pasien yang sedang menjalani kemoterapi atau perawatan intensif sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengubah pola makan. Kebutuhan energi dan nutrisi tetap penting untuk mendukung pemulihan.






















































