Ratusan Ribu Anak di Indonesia Terdeteksi Alami Gejala Kecemasan

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID
Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 yang digelar Kementerian Kesehatan RI, sekitar 7 juta anak telah diperiksa. Dari jumlah itu, hampir 10 persen terdeteksi memiliki masalah kesehatan mental.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 4,4 persen atau setara 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan. Sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak lainnya mengalami gejala depresi. Secara total, hampir 700 ribu anak terindikasi mengalami kedua kondisi tersebut.
Mengacu pada Psych Central, Kamis (26/3/2026), kecemasan dan depresi sering muncul bersamaan. Individu yang mengalami gangguan kecemasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Hal senada juga disampaikan National Depression Center, yang menyebut sekitar 50 persen penderita depresi juga mengalami kecemasan. Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada perempuan dengan prevalensi sekitar 23,4 persen, dibandingkan laki-laki sebesar 14,3 persen.
Secara ilmiah, kecemasan yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi depresi akibat tekanan psikologis berkepanjangan serta ketidakseimbangan neurotransmiter di otak.
Beberapa tanda yang umum muncul pada kedua kondisi tersebut meliputi kekhawatiran berlebihan, gangguan tidur, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.
Para ahli menjelaskan ada beberapa mekanisme yang menyebabkan kecemasan dapat berujung pada depresi:
Pertama, kecemasan mendorong seseorang untuk menghindari situasi tertentu yang dianggap memicu rasa takut. Dalam jangka panjang, hal ini membuat kehidupan terasa semakin terbatas dan berpotensi menimbulkan perasaan hampa hingga putus asa.
Kedua, kecemasan dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya. Rasa tidak mampu menghadapi situasi tertentu bisa menurunkan kepercayaan diri dan memicu kritik berlebihan terhadap diri sendiri, yang merupakan salah satu ciri depresi.
Ketiga, kecemasan berkepanjangan menguras energi emosional dan fisik. Respons stres yang terus aktif memicu pelepasan hormon seperti adrenalin, membuat tubuh selalu dalam kondisi siaga. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk kemampuan memori dan belajar.
Karena itu, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial sangat penting dalam menjaga kesehatan mental anak.
Penanganan sejak dini diharapkan dapat mencegah kecemasan berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius di kemudian hari. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
RSU Haji Medan Tangani 15 Kasus Suspek Campak Sejak Awal 2026BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























