Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Penolakan Pasien di RS Dipicu Kurangnya Pemahaman Petugas dan Penuhnya Kamar Rawat Inap

Mistar.idRabu, 14 Januari 2026 15.30
journalist-avatar-top
penolakan_pasien_di_rs_dipicu_kurangnya_pemahaman_petugas_dan_penuhnya_kamar_rawat_inap

Kadinkes Sumut, Muhammad Faisal Hasrimy (kanan) didampingi Sekretaris Dinkes Sumut, Hamid Rijal (kiri). (foto: Berry/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Utara (Sumut) menyebut soal penolakan pasien di Rumah Sakit (RS) dipicu kurangnya pemahaman petugas medis dan penuhnya kamar rawat inap.

Sekretaris Dinkes Sumut, Hamid Rijal menyebutkan beberapa hal yang menjadi penyebab RS melakukan penolakan terhadap pasien. Dijelaskan Hamid, adanya pemahaman yang masih perlu diperkuat lagi oleh petugas di RS, agar kasus penolakan terhadap pasien yang membutuhkan layanan kesehatan tidak terjadi lagi.

"Jadi kami (Dinkes Sumut) temukan masih ada beberapa kasus (menolak pasien) kemarin dan itu kita berikan sosialisasi lagi, kita berikan penguatan (petugas) lagi," ujarnya kepada Mistar, Rabu (14/1/2026).

Hamid mengatakan tantangan bagi pihaknya agar memberikan pemahaman kepada para petugas jika kamar kelas 3 penuh untuk pasien BPJS Kesehatan, maka pasien harus diberikan kamar yang ada untuk sementara waktu.

Selain itu, Hamid juga memberitahukan persoalan yang lebih tinggi lainnya seperti, adanya kesulitan mendapatkan ruang rawat inap. Hal itu juga ditemukan dan Dinkes Sumut selalu melakukan telusur lebih lanjut.

"Kasus seperti itu, kita akan cek dan memeriksa RS yang memiliki Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian kamar di atas 80 persen, kita minta agar menambah fasilitas kamar," tuturnya.

Secara ketentuan kalau sudah di atas 80 persen, BOR RS sudah disebut sebagai kondisi yang penuh. Sehingga harus ada upaya penambahan tempat tidur dari pihak RS tersebut.

"Kami juga mendorong ke arah sana (peningkatan fasilitas kamar), kalau memang dari histori RS nya punya BOR atau keterisian kamar rawat inap sudah sampai melebihi 80 persen," ucapnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN