Monday, October 12, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Pasca Stroke, Libido Pria Bisa Menurun: Ini Penanganan yang Perlu Diketahui

Mistar.idSenin, 12 Oktober 2026 pukul 15.18 WIB
pasca_stroke_libido_pria_bisa_menurun_ini_penanganan_yang_perlu_diketahui

Ilustrasi (Foto: AI)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Stroke tidak hanya memengaruhi kemampuan bergerak, tetapi juga dapat berdampak pada kehidupan seksual pria. Sebagian pasien mengalami penurunan libido atau hasrat seksual, sementara lainnya menghadapi gangguan ereksi setelah serangan stroke.

Medical sexologist dr. Binsar Martin Sinaga, FIAS, menjelaskan bahwa kemampuan pasien untuk kembali menjalani kehidupan seksual setelah stroke berbeda-beda. Kondisi tersebut dipengaruhi keadaan kesehatan, tingkat pemulihan, serta keinginan pasien.

Pembahasan ini disampaikan dalam podcast Bugar Seksual Tribun Health bertajuk “Pria Pasca Stroke, Apakah Ereksi Dapat Normal Kembali?” yang tayang pada 2 Oktober 2026.

Libido dan Ereksi Bisa Terganggu Setelah Stroke

Menurut dr. Binsar, pasien pascastroke dapat mengalami penurunan hasrat seksual. Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh pasien akan kehilangan kemampuan berhubungan seksual secara permanen.

Gangguan seksual setelah stroke dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk perubahan fungsi saraf, gangguan pembuluh darah, kondisi psikologis, kelelahan, serta efek obat-obatan tertentu.

Karena penyebabnya beragam, evaluasi medis diperlukan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi fungsi seksual pasien dan menentukan penanganan yang sesuai.

Pemeriksaan Testosteron Dapat Dipertimbangkan

Dalam penanganan gangguan seksual pada pria pascastroke, kadar hormon testosteron juga dapat menjadi salah satu aspek yang diperiksa apabila terdapat indikasi medis.

“Yang penting juga di sini, jangan lupa kadar testosteron bagi seorang pria. Kita harus cek ya, karena libido, kebugaran,” ujar dr. Binsar.

Meski demikian, penurunan libido tidak selalu disebabkan oleh rendahnya testosteron. Dokter perlu menilai gejala, riwayat kesehatan, penggunaan obat, serta hasil pemeriksaan sebelum menentukan apakah terapi hormon atau penanganan lain diperlukan.

Penanganan dapat mencakup pengendalian faktor risiko stroke, evaluasi obat-obatan, rehabilitasi, dukungan psikologis, dan terapi gangguan ereksi sesuai kondisi pasien. Pasien sebaiknya tidak menggunakan obat kuat atau hormon tanpa berkonsultasi dengan dokter, terutama jika memiliki riwayat stroke dan penyakit kardiovaskular.

Keinginan Pasien dan Komunikasi dengan Pasangan

Dr. Binsar menekankan bahwa penanganan fungsi seksual perlu mempertimbangkan keinginan pasien. Jika pasien ingin kembali menjalani kehidupan seksual, dokter dapat membantu mengevaluasi kondisi dan pilihan terapi yang tersedia.

Komunikasi terbuka dengan pasangan juga dapat membantu mengurangi tekanan emosional selama pemulihan. Aktivitas seksual setelah stroke perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kemampuan fisik, dan saran tenaga medis.

Pada akhirnya, gangguan libido atau ereksi setelah stroke tidak selalu bersifat permanen. Dengan evaluasi yang tepat dan penanganan sesuai kebutuhan, sebagian pasien dapat mengalami perbaikan fungsi seksual. Namun, hasilnya berbeda pada setiap individu.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN