Lima Mitos Seputar Jagung

Jagung. (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Jagung manis kerap jadi pilihan banyak orang karena rasanya manis, teksturnya renyah, dan mudah diolah menjadi berbagai hidangan. Namun, di balik popularitasnya, jagung manis juga sering dihindari karena sejumlah anggapan negatif yang belum tentu benar.
Sebagian orang menganggap jagung manis kurang sehat karena kandungan gula dan karbohidratnya. Padahal, jika dikonsumsi dalam jumlah wajar, jagung justru menyimpan banyak manfaat bagi tubuh.
Berikut beberapa mitos seputar jagung manis beserta faktanya:
1. Jagung manis tinggi lemak
Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Secara umum, jagung termasuk makanan rendah lemak. Berdasarkan data USDA, Sabtu (25/4/2026), satu tongkol jagung hanya mengandung sekitar 1 gram lemak.
Jenis lemak yang terkandung di dalamnya juga merupakan kombinasi lemak jenuh, lemak tak jenuh tunggal, dan lemak tak jenuh ganda. Lemak tak jenuh tunggal dan ganda bahkan dikenal baik untuk kesehatan jantung, selama jagung dikonsumsi tanpa tambahan seperti mentega atau susu.
2. Makan jagung bikin berat badan naik
Jagung polos sebenarnya tidak tinggi kalori. Satu tongkol hanya mengandung sekitar 122 kalori dan hampir 3 gram serat yang membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.
Selain itu, jagung juga mengandung pati resisten, yaitu jenis karbohidrat yang dicerna lebih lambat dan dapat membantu mengontrol berat badan.
Yang berpotensi menambah berat badan justru topping tambahan seperti mentega, keju, saus, atau meses yang tinggi kalori.
3. Jagung manis terlalu tinggi gula
Memang untuk ukuran sayuran, jagung manis memiliki kandungan gula alami yang cukup terasa. Namun, jumlahnya tidak berlebihan.
Satu tongkol jagung ukuran sedang hanya mengandung sekitar 5 gram gula alami, bahkan kurang dari sepertiga kandungan gula dalam pisang.
Karena kaya serat dan memiliki indeks glikemik yang relatif rendah, jagung juga dicerna lebih lambat sehingga tidak langsung memicu lonjakan gula darah yang tajam.
4. Jagung tidak punya manfaat kesehatan
Ini jelas keliru. Jagung manis mengandung berbagai nutrisi penting seperti lutein dan zeaxanthin yang baik untuk kesehatan mata.
Selain itu, kandungan serat tidak larutnya membantu memberi makan bakteri baik di usus, memperlancar pencernaan, dan menjaga keteraturan buang air besar.
Jagung juga mengandung vitamin B, zat besi, protein, serta kalium yang penting untuk fungsi tubuh sehari-hari.
5. Memasak jagung menghilangkan nutrisinya
Tidak selalu demikian. Bahkan, menurut ulasan tahun 2018 dalam Food Science and Human Wellness, proses memasak justru dapat meningkatkan manfaat nutrisi jagung manis.
Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa konsumsi jagung secara rutin berpotensi membantu menurunkan risiko penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.
Dengan berbagai manfaat tersebut, jagung manis tetap menjadi pilihan makanan sehat selama dikonsumsi secara seimbang. Jadi, tak perlu takut menikmati jagung hanya karena mitos yang belum tentu benar. (hm20)












