Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Jangan Berikan Telur Mentah kepada Bayi, Ini Panduan Dokter soal MPASI

Mistar.idKamis, 15 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB
jangan_berikan_telur_mentah_kepada_bayi_ini_panduan_dokter_soal_mpasi

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K). (foto: Berry/Mistar)

Medan, MISTAR.ID – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Imbauan ini disampaikan menyusul kasus bayi meninggal dunia di Surabaya yang dikaitkan dengan pemberian telur mentah.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), mengatakan telur yang diberikan kepada bayi dan anak harus dimasak hingga matang sempurna untuk menjaga keamanan pangan.

“Hindari pemberian telur mentah atau setengah matang, pastikan telur dimasak hingga matang sempurna,” ujarnya kepada Mistar, Rabu (14/10/2026).

Menurut Piprim, jika orang tua ingin memberikan hidangan berbahan telur yang tidak dimasak hingga matang sempurna, sebaiknya menggunakan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan.

Selain memperhatikan keamanan makanan, orang tua juga perlu memastikan pemberian makanan sesuai dengan usia dan kesiapan perkembangan bayi.

Piprim menjelaskan, selama enam bulan pertama kehidupan, bayi dianjurkan mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Sementara itu, pemberian susu formula perlu disesuaikan dengan kebutuhan bayi.

“Mulai berikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) di usia enam bulan. Namun di usia empat bulan juga dapat diberikan MPASI berdasarkan kesiapan perkembangan bayi,” ucapnya.

Dokter spesialis anak itu menegaskan, MPASI tidak boleh diberikan sebelum bayi berusia empat bulan. Pemberian makanan, termasuk telur mentah, bubur, maupun jenis makanan lainnya, harus mempertimbangkan usia dan kesiapan bayi.

Piprim juga menyarankan orang tua berkonsultasi dengan dokter mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan bayi untuk makan, serta pemilihan makanan yang aman.

“Perhatikan kebersihan dan keamanan pengolahan makanan, hindari gunakan telur retak atau sudah rusak. Kesehatan anak prioritas utama dalam kegiatan pemberian makanan,” katanya.

Ia menegaskan, pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan kecukupan gizi, keamanan pangan, dan kesiapan perkembangan anak. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN