Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Ini Tanda-Tanda Stres yang Sering Dianggap Sepele

Mistar.idJumat, 17 April 2026 05.30
AN
ini_tandatanda_stres_yang_sering_dianggap_sepele

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira, mengungkapkan stres tidak selalu hadir dalam bentuk yang jelas seperti perasaan tertekan atau sedih. Justru, dalam banyak kasus, stres muncul secara halus dan sering dianggap sepele oleh penderitanya.

Melansir dari Antara, Kamis (16/4/2026), Teresa menjelaskan bahwa stres kerap tidak disadari karena tidak selalu dipicu oleh peristiwa besar. “Seringkali stres muncul dalam bentuk yang lebih halus dan dianggap sepele. Sumbernya pun tidak selalu berasal dari kejadian besar,” ujarnya.

Ia menuturkan, dalam pendekatan psikologi, manusia dipahami sebagai sistem yang saling terhubung antara pikiran, emosi, tubuh, dan perilaku. Karena itu, stres tidak selalu muncul sebagai pikiran yang terasa berat, tetapi bisa terlihat dari reaksi tubuh atau perubahan perilaku sehari-hari.

Gejala yang sering tidak disadari, lanjut Teresa, antara lain mudah lelah meski tidak melakukan aktivitas berat, sulit berkonsentrasi, lebih mudah tersinggung, hingga muncul perasaan kosong dan tidak bersemangat. Selain itu, stres juga bisa memicu keluhan fisik seperti sakit kepala, ketegangan di leher dan bahu, gangguan tidur, serta perubahan pola makan.

“Ketika seseorang mengalami tekanan emosional, tubuh ikut bereaksi. Jantung bisa berdebar, napas menjadi lebih cepat, otot menegang, bahkan sistem pencernaan terganggu. Jika berlangsung lama, bisa muncul keluhan seperti maag atau sulit tidur,” jelasnya.

Sebaliknya, kondisi fisik yang kurang prima juga dapat memperburuk kondisi mental. Kurang istirahat atau kelelahan, misalnya, dapat membuat seseorang lebih sensitif secara emosional dan kesulitan mengelola stres.

Teresa juga menyoroti kecenderungan stres yang memicu perilaku menunda pekerjaan. Hal ini biasanya dipicu oleh pikiran negatif, seperti merasa tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik, yang kemudian memicu kecemasan dan membuat seseorang memilih untuk menghindar.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa stres dapat berasal dari tekanan sehari-hari yang sering dianggap biasa, seperti beban pekerjaan, kemacetan, kurang tidur, hingga tuntutan sosial. Jika terjadi terus-menerus, tekanan tersebut dapat menumpuk dan berdampak pada kondisi mental.

Di sisi lain, stres juga bisa dipicu oleh peristiwa besar, seperti putus hubungan, kehilangan orang terdekat, konflik pernikahan, atau perubahan besar dalam hidup. “Kedua jenis stres ini sama-sama valid dan bisa memengaruhi seseorang,” katanya.

Untuk mengurangi stres, Teresa menyarankan agar individu mulai lebih peka terhadap kondisi diri. Caranya antara lain dengan berhenti sejenak dari aktivitas, menarik napas perlahan, melakukan peregangan ringan, atau berjalan santai untuk menurunkan ketegangan.

Selain itu, ia mengingatkan agar tidak terlalu terpaku pada pikiran negatif dan mulai melihatnya secara lebih objektif. Menikmati momen-momen kecil dalam keseharian, seperti makan dengan tenang, tertawa bersama teman, atau menyelesaikan tugas sederhana, juga dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan emosi.

“Momen kecil terlihat sederhana, tetapi sangat membantu menjaga kesejahteraan psikologis,” ujar Teresa. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN