Dokter Ingatkan Pekerja Lapangan Waspada Penyakit saat Hujan dan Banjir

Warga mendorong motornya yang mogok saat melintasi banjir di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Senin (12/1/2026). (Foto: Antara Foto/Muhammad Adimaja/bar/pri)
Jakarta, MISTAR.ID
Dosen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, DR. dr. Wan Nedra Komaruddin, Sp.A, mengingatkan pekerja lapangan untuk meningkatkan kewaspadaan kesehatan saat bertugas di tengah hujan dan banjir guna mencegah berbagai penyakit infeksi yang berpotensi serius.
Wan Nedra mengatakan pekerja lapangan seperti wartawan, kurir ekspedisi, dan petugas teknis memiliki risiko kesehatan lebih tinggi karena sering terpapar air hujan dan banjir yang tercemar. Paparan tersebut dapat memicu penyakit berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat.
“Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan,” kata Wan Nedra, dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena disebabkan bakteri dari urine tikus atau hewan lain yang mencemari air banjir. Bakteri tersebut dapat masuk melalui luka kecil di kulit dan menyebabkan demam tinggi, nyeri otot, hingga gangguan ginjal dan hati bila tidak segera ditangani.
Selain itu, kontak berkepanjangan dengan air kotor juga dapat menimbulkan infeksi kulit seperti dermatitis, bisul, dan jamur. Risiko diare dan tifus juga meningkat akibat bakteri dan virus yang masuk ke saluran pencernaan.
Kondisi lembap dan dingin dalam waktu lama, lanjut Wan Nedra, turut meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan seperti flu, bronkitis, hingga pneumonia.
Ia menekankan langkah utama yang harus dilakukan pekerja lapangan setelah terpapar air banjir adalah segera membersihkan diri. “Segera mandi dengan air bersih dan sabun, terutama pada bagian tubuh yang kontak langsung dengan air banjir. Luka sekecil apa pun harus dibersihkan dan diberi antiseptik,” ujarnya.
Wan Nedra juga menyarankan pekerja mengganti pakaian dan alas kaki yang basah, serta membersihkan perlengkapan kerja seperti sepatu bot dan sarung tangan agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.
Jika muncul gejala seperti demam, nyeri otot, diare, atau luka bernanah dalam beberapa hari setelah bertugas, ia mengimbau agar pekerja segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Sebagai langkah pencegahan, Wan Nedra merekomendasikan penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot tahan air, sarung tangan, dan jas hujan. Ia juga menganjurkan pekerja membawa perlengkapan pribadi berupa sabun antiseptik, kaus kaki cadangan, serta mengonsumsi vitamin C, vitamin B kompleks, zinc, dan multivitamin untuk menjaga daya tahan tubuh.
Selain itu, pekerja lapangan disarankan membawa obat-obatan dasar seperti antiseptik luka, obat antijamur, obat diare, oralit, serta memastikan status vaksin tetanus masih terlindungi.
“Persiapan yang baik dan kebiasaan hidup bersih sangat penting agar pekerja lapangan tetap sehat, aman, dan produktif meski bekerja di kondisi cuaca ekstrem,” kata Wan Nedra. (hm25)


















