Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Manfaat, Risiko, dan Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sunat pada Bayi Laki-laki

Mistar.idMinggu, 18 Januari 2026 05.00
journalist-avatar-top
manfaat_risiko_dan_hal_yang_perlu_dipertimbangkan_sunat_pada_bayi_lakilaki_

Ilustrasi. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Sunat atau sirkumsisi merupakan tindakan medis untuk mengangkat kulit kulup yang menutupi ujung penis. Di Indonesia, sunat umumnya dilakukan saat anak memasuki usia sekolah. Meski begitu, tidak sedikit orang tua yang memilih melakukan sunat sejak bayi.

Sunat sebenarnya dapat dilakukan kapan saja, termasuk sejak bayi baru lahir. Namun sebelum mengambil keputusan, orang tua perlu memahami manfaat serta risiko sunat pada bayi laki-laki.

Mengutip laman Cleveland Clinic, Sabtu (17/1/2026), waktu yang dianggap paling ideal untuk melakukan sunat pada bayi adalah dalam 10 hari pertama setelah lahir, selama kondisi bayi sehat. Pada usia ini, proses penyembuhan biasanya berlangsung lebih cepat dan tingkat nyeri relatif lebih ringan, terutama jika dilakukan dengan anestesi lokal.

Sunat diketahui memberikan sejumlah manfaat kesehatan. Setelah kulup diangkat, penis menjadi lebih mudah dibersihkan sehingga kebersihan dan kesehatan organ intim lebih terjaga, terutama saat anak masih kecil.

Selain itu, sunat juga dapat menurunkan risiko beberapa masalah kesehatan, antara lain gangguan pada kulup, seperti fimosis (kulup sulit ditarik), parafimosis (kulup tersangkut), dan peradangan kepala penis (balanitis).

Meski tergolong aman, sunat tetap memiliki beberapa risiko yang perlu diketahui orang tua seperti reaksi terhadap anestesi, perdarahan ringan, infeksi pada area luka, nyeri setelah tindakan, kulup terpotong terlalu sedikit atau berlebihan, iritasi pada ujung penis, penyempitan lubang kencing (stenosis meatus), serta peradangan ujung penis (meatitis)

Dalam kasus yang sangat jarang, luka sunat dapat menempel kembali ke kepala penis sehingga memerlukan penanganan medis lanjutan.

Beredar anggapan bahwa sunat dapat mengurangi kenikmatan seksual saat dewasa. Namun, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa sunat menurunkan sensitivitas, orgasme, kesuburan, atau kemampuan memiliki keturunan.


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN