Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Benarkah Kecerdasan Anak Lebih Banyak Diturunkan dari Ibu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mistar.idSelasa, 2 Juni 2026 pukul 07.00 WIB
benarkah_kecerdasan_anak_lebih_banyak_diturunkan_dari_ibu_ini_penjelasan_ilmiahnya

Ilustrasi. (foto: istockphoto/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Anggapan bahwa kecerdasan anak lebih banyak diwariskan dari ibu masih sering menjadi perbincangan. Namun, para ahli menegaskan kecerdasan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan, sehingga tidak dapat dikaitkan hanya dengan salah satu orang tua.

Kecerdasan termasuk dalam kategori polygenic trait, yaitu sifat yang dipengaruhi oleh banyak gen sekaligus, bukan oleh satu gen tertentu. Ratusan gen diketahui berperan dalam membentuk kemampuan berpikir, daya ingat, hingga keterampilan memecahkan masalah.

Baik ibu maupun ayah sama-sama memberikan kontribusi genetik yang memengaruhi perkembangan kognitif anak. Faktor keturunan diperkirakan menyumbang sekitar 40 hingga 80 persen variasi kecerdasan seseorang, tergantung usia dan berbagai kondisi lainnya.

Meski demikian, potensi genetik tersebut tidak secara otomatis menentukan tingkat kecerdasan sejak lahir. Perkembangan kemampuan intelektual tetap dipengaruhi oleh berbagai pengalaman dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Mengapa Peran Ibu Sering Dianggap Lebih Dominan?

Salah satu alasan munculnya anggapan tersebut berkaitan dengan kromosom X. Kromosom ini membawa sejumlah gen yang berhubungan dengan fungsi kognitif.

Perempuan memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya memiliki satu kromosom X yang diwarisi dari ibu. Karena itu, pada anak laki-laki, pengaruh gen terkait kecerdasan yang berasal dari ibu dapat terlihat lebih dominan.

Sementara pada anak perempuan, faktor genetik dari kedua orang tua tetap berkontribusi dalam perkembangan kemampuan intelektual.

Sejumlah penelitian juga menemukan adanya fenomena genomic imprinting, yaitu kondisi ketika gen tertentu dari salah satu orang tua dapat menjadi kurang aktif atau tidak diekspresikan secara penuh. Dalam beberapa kasus, gen yang berasal dari ibu memiliki peran lebih besar pada fungsi kognitif tertentu.

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa gen dari ibu cenderung lebih aktif pada area otak yang berkaitan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti bahasa, logika, dan pengambilan keputusan. Sementara gen dari ayah lebih banyak berperan pada bagian otak yang mengatur emosi, motivasi, dan respons dasar.

Selain faktor genetik, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kecerdasan anak. Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain asupan nutrisi sejak masa kehamilan, stimulasi dan interaksi pada usia dini, kualitas pendidikan, serta pola asuh dan dukungan keluarga.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang positif, kaya stimulasi, dan mendapatkan dukungan emosional yang baik umumnya memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan potensi intelektualnya secara optimal.

Perkembangan ilmu epigenetik bahkan menunjukkan bahwa pengalaman hidup dapat memengaruhi cara gen bekerja tanpa mengubah susunan DNA. Artinya, potensi kecerdasan dapat berkembang atau terhambat tergantung pada kondisi lingkungan yang dihadapi seseorang.

Dengan demikian, meskipun ibu memiliki peran penting melalui kromosom X dan mekanisme genetik tertentu, ayah juga memberikan kontribusi besar terhadap kecerdasan anak. Pada akhirnya, faktor lingkungan menjadi kunci dalam menentukan bagaimana potensi genetik tersebut berkembang sepanjang kehidupan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN