Valentino Garavani Wafat di Usia 93 Tahun, “Kaisar Terakhir” Dunia Mode Tinggalkan Warisan Abadi

Garavani pada tahun 2007 di sebuah pameran karya-karyanya di Museum Ara Pacis di Roma. Ia tidak hanya mendandani para tokoh besar dunia, tetapi juga menjadi setara dengan mereka, dengan istana-istananya sendiri, istana keliling, dan warna merah khasnya. (foto:Pier Paolo Cito/Associated Press melalui New York Times/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Dunia mode internasional kehilangan salah satu figur terbesarnya. Valentino Garavani, perancang busana legendaris Italia yang dijuluki “Kaisar Terakhir” dunia mode, meninggal dunia pada usia 93 tahun di kediamannya di Roma, Senin (19/1/2026). Kepergiannya menandai berakhirnya sebuah era—era ketika kemewahan, keanggunan, dan glamor menjadi bahasa utama fashion global.
Valentino bukan sekadar desainer. Ia adalah simbol kekuasaan estetika, sosok yang menjadikan busana setara dengan mahkota, istana, dan status sosial tertinggi. Selama lebih dari setengah abad, ia mendandani para ratu, putri, bintang Hollywood, hingga tokoh politik dunia—dan pada saat yang sama, menjadi setara dengan mereka.
“Di Italia, ada Paus—dan ada Valentino,” ujar Walter Veltroni, mantan Wali Kota Roma. Demikian dikutip dari NewYork Times, Selasa (20/1/2026).
Dari Voghera ke Puncak Dunia Mode
Valentino Clemente Ludovico Garavani lahir pada 11 Mei 1932 di Voghera, sebuah kota kecil di Italia utara. Ketertarikannya pada estetika sudah tampak sejak kecil. Ia belajar mode di Milan sebelum melanjutkan pendidikan ke Paris di École de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne.
Setelah bekerja bersama Jean Dessès dan Guy Laroche, Valentino kembali ke Italia dan pada 1959 mendirikan rumah modenya sendiri di Via dei Condotti, Roma. Di kota inilah, ia mulai membangun reputasi sebagai perancang yang mengusung kemewahan klasik dan keindahan yang tak lekang oleh waktu.
Giancarlo Giammetti dan Kerajaan Bernama Valentino
Kesuksesan Valentino tak bisa dilepaskan dari Giancarlo Giammetti, mitra bisnis sekaligus sahabat hidupnya. Pertemuan mereka pada 1960 menjadi fondasi kuat yang menyelamatkan Valentino dari kebangkrutan dan membawanya ke panggung dunia.
Jika Valentino adalah kaisar kreatifnya, Giammetti adalah perdana menteri yang mengelola kerajaan bisnisnya. Valentino fokus pada desain, sementara Giammetti memastikan brand Valentino tumbuh menjadi kekuatan global—lengkap dengan puluhan lisensi, ekspansi internasional, dan status sebagai rumah mode elite.
“Valentino Red”, Warna Kekuasaan dan Keanggunan
Tak ada pembahasan tentang Valentino tanpa menyebut Valentino Red. Warna merah khas ini lahir dari pengamatannya terhadap perempuan berbaju merah di sebuah pertunjukan opera di Barcelona pada awal kariernya.
Sejak saat itu, merah menjadi identitas, simbol keberanian, sensualitas, dan kemewahan. Hampir setiap koleksi Valentino ditutup dengan gaun merah—sebuah pernyataan visual bahwa keindahan adalah bentuk kekuasaan.

Keterangan gambar: Para model berjalan di atas panggung setelah presentasi koleksi Haute Couture Musim Semi-Panas 2008 karya perancang busana Italia Valentino, di Paris, 23 Januari 2008. (Foto:AP Photo/Jacques Brinon/Mistar)
Busana Ikonik yang Membentuk Sejarah
Valentino menciptakan sejumlah busana yang melekat dalam momen-momen bersejarah dunia:
- Jacqueline Kennedy Onassis mengenakan Valentino saat menikah dengan Aristotle Onassis (1968).
- Elizabeth Taylor tampil memukau dalam gaun Valentino di Roma (1960).
- Julia Roberts memenangkan Oscar Aktris Terbaik dengan gaun hitam-putih Valentino (2001).
- Cate Blanchett meraih Oscar Aktris Pendukung Terbaik dengan gaun sutra kuning rancangan Valentino (2005).
Busana Valentino bukan sekadar pakaian—ia adalah arsip visual sejarah modern.
Menolak Tren, Mengejar Keindahan
Di saat industri mode mulai bergerak ke arah minimalisme dan grunge pada 1990-an, Valentino memilih tetap setia pada glamor. Ia menolak mengikuti tren demi tren.
“Saya selalu mencari keindahan,” katanya.
“Saya ingin wanita terlihat sensasional.”
Sikap ini membuatnya dikritik sekaligus dipuja. Namun justru di sanalah kekuatan Valentino: ia menciptakan dunianya sendiri, dan hidup di dalamnya.
Pensiun, Istana, dan Kehidupan Megah
Valentino resmi pensiun pada 2008, setelah peragaan haute couture terakhirnya yang megah di Roma. Namun hidupnya jauh dari kata sederhana. Ia memiliki rumah di Roma, Paris, London, New York, Gstaad, hingga sebuah château bersejarah di Prancis, lengkap dengan taman luas dan interior aristokrat.
Kehidupannya—yang diabadikan dalam film dokumenter The Last Emperor—menampilkan dunia mode sebelum industrialisasi total: kapal pesiar, istana, pesta, seni, dan ritual kemewahan yang nyaris punah.
Warisan yang Tak Pernah Pudar
Meski Valentino telah tiada, warisannya tetap hidup melalui rumah mode Valentino yang kini dilanjutkan oleh generasi kreatif baru. Lebih dari itu, ia meninggalkan standar keindahan yang sulit ditandingi: mode sebagai seni, bukan sekadar bisnis.
“Saya berharap dikenang sebagai pria yang mengejar keindahan di mana pun ia berada,” ucapnya suatu ketika.
Dan dunia mode akan mengenangnya demikian—sebagai kaisar yang memerintah bukan dengan kekuasaan politik, melainkan dengan keindahan.
Fakta Menarik Valentino Garavani
- Dijuluki “The Last Emperor” dan “Sheik of Chic”.
- Menjadi desainer Italia pertama yang sejajar dengan haute couture Paris.
- Memiliki lebih dari 40 lisensi produk di puncak kejayaannya.
- Gaun merah selalu menjadi penutup koleksi Valentino.
- Pensiun saat berada di puncak reputasi global.
(berbagaisumber/ai/hm27)























