Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Trump Klaim Iran Diam-Diam Ingin Negosiasi dengan AS

Mistar.idKamis, 26 Maret 2026 pukul 11.07 WIB
trump_klaim_iran_diamdiam_ingin_negosiasi_dengan_as

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: Istimewa)

news_banner

Washington Dc, MISTAR.ID

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengeklaim delegasi Iran diam-diam terlibat dalam negosiasi dengan AS, namun enggan mengakuinya karena takut terhadap ancaman internal.

Dalam pernyataannya saat jamuan makan malam bersama anggota Partai Republik pada Rabu (25/3/2026), Trump menyebut pihak Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan.

“Mereka takut mengatakan, karena mereka menduga akan dibunuh orang-orang mereka sendiri,” kata Trump, dikutip AFP.

Ia juga menambahkan delegasi Iran disebut khawatir terhadap ancaman dari pihak luar, termasuk Amerika Serikat.

Pernyataan Trump tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak berniat untuk bernegosiasi di tengah konflik yang masih berlangsung.

“Kami tidak berniat untuk bernegosiasi. Sejauh ini belum ada negosiasi yang terjadi,” ujar Araghchi dalam pernyataan di televisi pemerintah.

Ia juga menilai bahwa negosiasi dengan AS dalam kondisi saat ini sama dengan mengakui kekalahan.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir menawarkan diri sebagai mediator.

Pakistan dilaporkan telah menyampaikan proposal kepada Iran, sementara Turki menjalin komunikasi dengan kedua pihak. Namun, belum ada rincian terkait isi proposal tersebut, termasuk apakah sejalan dengan usulan 15 poin dari AS.

Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Teheran telah meninjau proposal tersebut dan memberikan tanggapan negatif.

Konflik antara AS dan Israel dengan Iran meningkat sejak Februari 2025. Serangan yang dilancarkan dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta ribuan warga.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan aset militer AS di kawasan Teluk, sehingga memperburuk eskalasi konflik di kawasan tersebut. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN