Protes Kekerasan Rasis Polisi di Utrecht Usai Penyerangan Dua Wanita Muslim

Warga Belanda turun ke jalan memprotes kekerasan rasis terhadap dua wanita muslim (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Aksi protes menentang dugaan kekerasan rasis oleh aparat kepolisian berlangsung di Utrecht pada Kamis (29/1/2026). Demonstrasi ini digelar menyusul insiden penyerangan terhadap dua perempuan Muslim oleh seorang petugas polisi yang terjadi awal pekan ini.
Puluhan massa berkumpul di Lapangan Vredenburg, pusat kota Utrecht, untuk menyuarakan kecaman atas tindakan aparat yang dinilai berlebihan dan bermuatan rasisme. Dalam insiden tersebut, seorang polisi dilaporkan memukul salah satu korban menggunakan pentungan, sementara korban lainnya ditendang di bagian perut.
Massa Nilai Kekerasan Polisi Terjadi Secara Sistematis
Para demonstran menegaskan bahwa kejadian ini bukan kasus tunggal. Mereka menilai kekerasan berbasis ras yang dilakukan aparat keamanan di Belanda terjadi berulang dan bersifat sistematis. Oleh karena itu, aksi unjuk rasa juga menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi yang dirasakan oleh kelompok minoritas, khususnya Muslim.
Selain menuntut permintaan maaf resmi dari kepolisian, massa juga mendesak adanya jaminan bahwa kasus serupa tidak akan terulang di masa mendatang. Salah satu tuntutan utama adalah pemecatan petugas polisi yang terlibat langsung dalam insiden tersebut.
Sejumlah slogan disuarakan selama aksi berlangsung, di antaranya seruan keadilan dan penolakan terhadap praktik rasisme di tubuh kepolisian. Setelah berkumpul di Lapangan Vredenburg, massa kemudian melakukan long march menuju kantor polisi Paardenveld di Utrecht.
Video Viral Picu Gelombang Kemarahan Publik
Demonstrasi ini dipicu oleh beredarnya rekaman video di media sosial yang memperlihatkan tindakan kekerasan polisi terhadap dua wanita di depan pusat perbelanjaan Hoog Catharijne. Video tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu kecaman publik, baik di Belanda maupun internasional.
Pihak kepolisian Utrecht mengonfirmasi bahwa penyelidikan internal telah dibuka. Dalam pernyataan resminya, polisi menyebutkan bahwa seluruh rekaman visual yang tersedia akan dianalisis sebagai bagian dari proses investigasi.
Namun, kepolisian juga menyampaikan bahwa salah satu korban sempat ditahan dengan dugaan telah menghina petugas. Pernyataan ini memicu perdebatan publik dan mempertajam sorotan terhadap cara aparat menangani kasus tersebut.
Dugaan Pernyataan Rasis dan Kondisi Korban
Menurut laporan media publik Belanda, NOS, seorang juru bicara kepolisian mengakui bahwa video tersebut menimbulkan reaksi emosional yang kuat, terutama terkait isu rasisme dan perlakuan aparat terhadap warga minoritas.
Pengacara korban, Anis Boumanjal, mengungkapkan bahwa kliennya mengalami kekerasan fisik dan verbal. Ia menyebutkan bahwa petugas polisi tersebut diduga melontarkan pernyataan bernada rasis, termasuk ucapan yang menyiratkan bahwa para korban tidak pantas tinggal di Belanda.
Boumanjal menambahkan bahwa kedua perempuan tersebut mengalami luka-luka akibat insiden itu dan saat ini masih menjalani perawatan medis.



















