4.1 C
New York
Thursday, February 22, 2024

Peringatan 10 Tahun Kematian Nelson Mandela, Warisan Pro Palestina Terus Hidup

Johannesburg, MISTAR.ID

Setelah dibebaskan dari penjara selama 27 tahun, pada Februari 1990, tokoh anti-apartheid Nelson Mandela memberikan pelukan erat kepada pemimpin Palestina Yasser Arafat.

Tindakan itu melambangkan dukungannya terhadap perjuangan yang terus diadvokasi oleh partai pemerintahnya, African National Congress (ANC).

Gestur tersebut sangat kontroversial pada saat itu, sebagaimana dukungan Afrika Selatan terhadap perjuangan Palestina terus menuai kontroversi hingga hari ini, tetapi Mandela mengabaikan kritik tersebut.

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat telah menjadi pendukung teguh perjuangan Mandela melawan pemerintahan minoritas kulit putih. Banyak warga Afrika Selatan melihat paralel antara perjuangan mereka dan perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel.

Baca Juga: Amerika Serikat Umumkan Larangan Visa Bagi Pelaku Kekerasan di Tepi Barat

“Kami beruntung dengan dukungan mereka, kami berhasil meraih kebebasan kita… Kakek saya mengatakan bahwa kebebasan kita tidak lengkap tanpa perjuangan Palestina,” kata cucu Nelson, Mandla Mandela, dalam wawancara jelang peringatan kematian kakeknya yang ke-10.

Solidaritas untuk Rakyat Palestina

Mulai 3 hingga 5 Desember, Mandla Mandela, yang juga anggota parlemen ANC, menyelenggarakan konferensi solidaritas di Johannesburg untuk rakyat Palestina.

Konferensi itu dihadiri oleh anggota Hamas, kelompok perlawanan Palestina yang di mana Israel telah bersumpah untuk menghancurkan sebagai balasan serangan mereka pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 240 orang, menurut perhitungan Israel.

Related Articles

Latest Articles