Wednesday, October 7, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Menteri Minyak Iran Mundur di Tengah Krisis Ekonomi dan Anjloknya Pendapatan Minyak

Mistar.idRabu, 7 Oktober 2026 pukul 14.40 WIB
menteri_minyak_iran_mundur_di_tengah_krisis_ekonomi_dan_anjloknya_pendapatan_minyak

Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Iran, MISTAR.ID — Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri ketika perekonomian negara tersebut tengah menghadapi tekanan berat. Pelemahan mata uang rial, inflasi yang tinggi, serta penurunan pendapatan minyak menjadi sejumlah persoalan yang membayangi pemerintah Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan telah menerima pengunduran diri Paknejad. Sang menteri disebut mengajukan alasan pribadi di balik keputusan tersebut.

Pengunduran diri itu terjadi ketika sektor minyak Iran juga menghadapi sorotan terkait pengelolaan pendapatan ekspor.

Ada dugaan tunggakan hampir US$2 miliar

Beberapa hari sebelum Paknejad mundur, muncul laporan mengenai dugaan tunggakan pembayaran dari lembaga perantara yang digunakan Iran untuk menjual minyak ke pasar luar negeri.

Lembaga tersebut disebut memiliki kewajiban hampir US$2 miliar atau sekitar Rp35,6 triliun kepada National Iranian Oil Company (NIOC), perusahaan minyak milik negara Iran.

Media Iran Farhikhtegan melaporkan, lembaga perantara yang dibentuk pada masa jabatan Paknejad tersebut diduga memiliki utang besar kepada NIOC. Tiga individu yang mendapatkan kontrak penjualan minyak juga disebut memiliki kewajiban pembayaran hingga ratusan juta dolar.

Parlemen Iran kemudian membuka penyelidikan terhadap dugaan tersebut.

Rial Iran terus melemah

Tekanan ekonomi Iran semakin terasa setelah nilai rial mengalami pelemahan tajam.

Dalam sebulan terakhir, rial dilaporkan merosot lebih dari 10 persen. Nilai tukar dolar AS bahkan mencapai sekitar 269.000 toman atau 2,69 juta rial untuk setiap US$1.

Kenaikan harga pangan juga menjadi persoalan serius. Inflasi pangan dilaporkan mencapai sekitar 130 persen, sementara inflasi secara keseluruhan berada di kisaran 85 persen.

Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat semakin tertekan.

Ekonomi Iran mengalami kontraksi

Perekonomian Iran juga dilaporkan mengalami kontraksi sekitar 10 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.

Penurunan penerimaan dari sektor minyak menjadi salah satu faktor yang mempersempit ruang pemerintah dalam memperoleh devisa. Kondisi tersebut semakin sulit di tengah hambatan terhadap ekspor minyak Iran.

Sektor energi menjadi sangat penting bagi perekonomian Iran karena minyak merupakan salah satu sumber utama pendapatan negara.

Ketidakpastian ekspor dan meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz turut menambah tekanan terhadap prospek ekonomi Iran.

Krisis mulai terasa di sektor tenaga kerja

Memburuknya kondisi ekonomi tidak hanya berdampak pada pemerintah dan sektor energi. Masyarakat juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya hidup.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN