Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Menlu Iran Tegaskan Tak Ada Pendemo yang Dihukum Gantung

Mistar.idKamis, 15 Januari 2026 pukul 09.40 WIB
menlu_iran_tegaskan_tak_ada_pendemo_yang_dihukum_gantung

Iran menjadi sorotan usai gelombang demonstrasi menjalar di negara tersebut sejak beberapa pekan lalu. (Foto: REUTERS/Isabel Infantes)'

news_banner

Teheran, MISTAR.ID

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memastikan bahwa tidak ada pendemo yang akan dijatuhi hukuman gantung. Ia menegaskan, pemerintah Iran tidak memiliki rencana untuk melaksanakan eksekusi mati, baik pada hari ini maupun besok.

Penegasan tersebut disampaikan Araghchi dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Amerika Serikat, Fox News.

Menurut Araghchi, rangkaian aksi demonstrasi yang berlangsung selama sekitar 10 hari awalnya berjalan secara damai. Namun, dalam tiga hari terakhir, aksi tersebut diwarnai kekerasan yang, menurutnya, dipicu oleh campur tangan Israel. Saat ini, ia menyebut kondisi di lapangan telah kembali terkendali.

“Saya dapat memberi tahu Anda, saya yakin bahwa tidak ada rencana untuk hukuman gantung,” kata Araghchi, seperti dikutip AFP, Kamis (15/1/2026).

Sebelumnya, otoritas kehakiman Iran sempat memberikan isyarat akan menerapkan proses hukum cepat terhadap para tahanan yang diduga terlibat dalam gelombang unjuk rasa besar di berbagai wilayah, termasuk kemungkinan penjatuhan hukuman mati. Sikap tersebut muncul meski terdapat peringatan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Associated Press melaporkan pada Rabu (14/1/2026), pernyataan itu disampaikan oleh Kepala Otoritas Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, melalui sebuah rekaman video yang kemudian ditayangkan secara daring oleh televisi pemerintah Iran.

“Jika kita ingin melakukan suatu pekerjaan, kita harus melakukannya sekarang. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat,” ujar Mohseni-Ejei.

Ia menambahkan bahwa penanganan yang memakan waktu terlalu lama akan mengurangi dampak yang diharapkan.

“Jika terlambat, dua bulan, tiga bulan kemudian, itu tidak akan memiliki efek yang sama. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat,” katanya.

Gelombang demonstrasi yang terjadi di Iran sejak bulan lalu pada mulanya dipicu oleh kekecewaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Seiring berjalannya waktu, aksi tersebut berkembang menjadi penentangan yang lebih luas terhadap sistem pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak Revolusi Iran 1979.

Dalam beberapa hari terakhir, situasi unjuk rasa dilaporkan semakin memanas, disertai kerusuhan dan tindakan kekerasan. Seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan identitasnya mengungkapkan pada Selasa (13/1/2026) bahwa sekitar 2.000 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian demonstrasi berskala besar tersebut. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN